Tiap Hari, Belasan Pasien Difteri Masuk IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

Pasien difteri yang datang dikategorikan tiga kelompok yaitu suspect (terduga), probable (kemungkinan) dan positif difteri.

Kamis, 28 Des 2017 16:18 WIB

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin, Bandung, Jawa Barat. (Foto: perwakilan.jabarprov.go.id/Publik DOmain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bandung - Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat terus menerima pasien terduga kena paparan difteri. 

Jumlah pasien terduga difteri yang masuk IGD berkisar 10 hingga 14 orang perhari. Kepala IGD RS Hasan Sadikin, Doddy Tavianto mengatakan jumlah pasien difteri meningkat sejak Provinsi Jawa Barat ditetapkan dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri pada 5 Desember 2017 lalu oleh Kementerian Kesehatan.

Doddy mengatakan pasien difteri yang datang dikategorikan tiga kelompok yaitu suspect (terduga), probable (kemungkinan) dan positif difteri. 

Untuk mengetahui pasien yang datang ke IGD terpapar difteri, kata Doddy, para dokter di IGD melakukan pemeriksaan awal khusus terhadap pasien yang masuk kategori suspect dan probable, untuk dipisahkan dari pasien penyakit lain.

"Memang kemungkinan ada pasien yang tercampur. Karena kadang-kadang keluhan difteri itu banyak, seperti pilek, flu biasa, yang kita anggap penyakit biasa dan setelah kita periksa ternyata difteri. Masih ada kemungkinan bercampur. Tapi kalau memang sudah diduga difteri kita akan pisahkan dalam ruang infeksi dan non infeksi," kata Doddy Tavianto di ruang IGD RS Hasan Sadikin, Bandung, Jalan Pasteur, Bandung, Kamis (28/12/2017). 

Baca juga:

Kepala IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Doddy Tavianto mengatakan pasien difteri yang bercampur dengan pasien penyakit lain, biasanya datang sendiri ke IGD dengan alasan khawatir terpapar penyakit menular dari virus yang jatuh dari udara (airborn). 

Namun untuk pasien rujukan rumah sakit lain, memiliki riwayat medis cukup diketahui positif difteri maka langsung dirawat di ruang isolasi.

Selain ruang isolasi penyakit menular khusus di IGD, RS Hasan Sadikin juga memiliki ruang rawat inap isolasi lainnya yaitu Flamboyan untuk dewasa dan di ruang Ilmu Penyakit Anak khusus pasien anak.

Untuk mengantisipasi penularan penyakit difteri ke tim medis, Doddy Tavianto mengatakan secara bertahap seluruh dokter, perawat, dan karyawan yang berdinas diberikan anti difteri serum (ADS).

"Ada sekitar 3000-4000 untuk karyawan, perawat, paramedis, dokter dan lain-lain," kata Doddy.

Pemerintah kini tengah memerangi wabah penyakit difteri dan sudah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit  yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae tersebut telah menyerang di 20 Provinsi, 11 provinsi di antaranya berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB). 

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.