Perayaan Natal di Yogyakarta Kental Budaya Jawa

"Terutama karena Gereja Katolik memberi tempat pada penggunaan bahasa lokal yang, lebih membantu orang merasakan Tuhan karena mereka tahu maknanya."

Minggu, 24 Des 2017 15:09 WIB

Gereja Katolik Maria Assumpta Gamping, Sleman. (Foto: KBR/ Eka J)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Yogyakarta - Nuansa Jawa mewarnai perayaan Natal di salah satu gereja di Yogyakarta.

Ibadah malam Natal di Gereja Katolik Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman akan dibawakan dalam bahasa Jawa krama inggil (bahasa Jawa halus). Kain batik pun tampak menjadi ornamen pelengkap yang dipasang di tiang-tiang ruang ibadah.

Khotbah dan seluruh rangkaian kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB itu menggunakan pengantar bahasa Jawa. Termasuk, fragmen kelahiran Yesus Kristus yang melibatkan anak-anak.

Hal tersebut menurut Romo Joko Lelono, pastor gereja setempat lantaran dalam keseharian sebagian besar jemaat masih menggunakannya bahasa Jawa. Sehingga dengan begitu, makna dan kehadiran Tuhan pun menurutnya bisa lebih terasa.

"Karena umat di tempat ini masih banyak yang berbudaya Jawa dan kami menikmati perayaan berbahasa Jawa. Bisa merasakan perayaan kehadiran Tuhan dalam bahasa Jawa. Memberi tempat juga bagi mereka yang masih menggunakan bahasa Jawa," tutur Joko di sela persiapan ibadah Natal di Gereja Gamping, Minggu (24/12).

Baca juga:

Joko melanjutkan, umat di daerah itu yang sebagian besar bermata pencaharian petani, pedagang dan peternak pun lebih memahami pesan yang disampaikan dalam bahasa Jawa.

"Kehidupan harian masih lebih cocok merasakan perjumpaan dengan Tuhan dalam bahasa lokal. Terutama karena Gereja Katolik memberi tempat pada penggunaan bahasa lokal yang lebih membantu orang merasakan Tuhan karena mereka tahu maknanya."

Gereja Katolik Santa Maria Assumpta Gamping berdiri sejak 1940an dan berkembang pada 1968. Bangunan utama gereja Jawa ini berbentuk pendapa. Seperangkat gamelan selalu tersedia untuk mengiringi rangkaian ibadah.


Pada Natal kali ini, dekorasi gereja banyak menggunakan bambu dan kain batik gaya Yogyakarta. Pohon Natal juga dibuat menyerupai gunungan dengan elemen bambu yang lazim dijumpai di daerah itu.

"Kalau di Eropa kan pohon Natal pakai cemara karena musim dingin. Di kami pakai bambu dan kertas hias," ujarnya.

Romo Joko menambahkan, sekitar 5.000 orang akan datang pada ibadah Natal yang berlangsung dua hari. Setelah beribadah di gereja, umat biasanya saling berkunjung terutama ke warga yang lebih tua dan tidak dapat ke gereja. Masyarakat sekitar gereja pun membantu mengamankan jalannya ibadah dan menyediakan lokasi untuk lahan parkir kendaraan.



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.