Lahan Gereja Dibagi untuk Masjid, GKI Yasmin: Pembagian Terserah Wali Kota Bogor

Lahan yang akan dibagikan seluas 1.721 meter persegi, milik Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI Wilayah Jawa Barat.

Selasa, 26 Des 2017 16:06 WIB

Gereja GKI Yasmin di Bogor tidak terawat sejak disegel Pemerintah Kota Bogor pada 2010. (Foto: KBR/Citra)

KBR, Jakarta - Pengurus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin di Bogor Jawa Barat memberikan wewenang sepenuhnya kepada Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiharto dalam wacana pembagian lahan gereja untuk pembangunan masjid, di Jalan KH. Abdullah bin Nuh Kavling 31 Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat. 

Lahan yang akan dibagikan seluas 1.721 meter persegi, milik Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI Wilayah Jawa Barat.

Juru bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging mengatakan BPMS GKI wilayah Jawa Barat sudah memberitahukan sikap tersebut kepada Bima.

"Jadi dari luas lahan 1.721 meter persegi itu, nanti Bima Arya yang akan memutuskan persentasenya. Saya kira Wali Kota nggak akan mungkinlah memutuskan secara gegabah soal itu. Terakhir ada pembicaraan apakah 50:50 persen pembagiannya, atau 60:40 persen---60 persen untuk gereja dan 40 persen untuk masjid. Itu kami serahkan sepenuhnya pada Bima Arya dan kami yakin dia akan memutuskan secara bijak," kata Bona Sigalingging kepada KBR melalui sambungan telepon, Selasa (26/12/2017).

Baca juga:

Pembentukan tim

Bona mengaku ia terus berkomunikasi dengan Wali Kota Bima Arya untuk mengetahui progres pelaksanaan rencana tersebut. 

Perkembangan terakhir, kata Bona, Wali Kota Bima Arya sudah membentuk tim yang di dalamnya juga melibatkan BPMS GKI Jawa Barat dan GKI Yasmin. Bona berharap, pada awal 2018 mendatang tim tersebut sudah bisa merinci pembagian lahan gereja sehingga Bima bisa segera memutuskan.

BMPS GKI wilayah Jawa Barat, kata Bona, telah menyetujui gagasan Bima yang berniat membuka segel GKI Yasmin di Bogor. Pembukaan segel gereja tersebut sebagai legitimasi untuk proses renovasi. Namun syaratnya, Bima akan membangun masjid di sebagian lahan gereja, agar tidak ada perasaan iri dari kelompok yang selama ini menolak pembangunan gereja.

Bona mengklaim, sampai saat ini tidak ada jemaat yang keberatan atas gagasan Bima maupun keputusan BPMS GKI Jawa Barat. Yang terpenting, kata Bona, para jemaat GKI Yasmin kembali memiliki rumah ibadah.

Bila gereja dan masjid berdiri berdampingan, kata Bona, GKI Yasmin siap menyambut positif perbedaan kehidupan beragama. Dia juga tidak memandang keberagaman itu sebagai sebuah ancaman. 

Bona bahkan menegaskan, GKI Yasmin tidak akan meminta pengamanan khusus terkait teknis pelaksanaan peribadatan yang mungkin bakal terjadi secara bersamaan, baik di gereja dan di masjid.

"Di Indonesia banyak sekali kok yang hidup berdampingan seperti itu," kata Bona Sigalingging.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiharto optimistis wacana renovasi GKI Yasmin dan pembangunan masjid secara berdampingan bakal terwujud tahun depan. 

Saat ini, tim yang dibentuk Pemerintah Kota Bogor sedang merumuskan teknis implementasi rencana tersebut. Menurut Bima Arya, pembagian lahan untuk gereja dan masjid merupakan solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik dan penyegelan telah terjadi sejak tahun 2012.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.