Angka Kematian Akibat Difteri di Jawa Barat Meningkat

Dinas Kesehatan Jawa Barat menyebut angka kematian akibat difteri tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Pada 2016, terjadi 221 kasus difteri dengan angka kematian mencapai 10 orang.

Rabu, 06 Des 2017 11:05 WIB

Ilustrasi. (Foto: Sanofi Pasteur/Flickr/Creative Commons)

KBR, Bandung - Sepanjang tahun 2017 ini kasus penyakit difteri di Jawa Barat tercatat mencapai 116 kasus dengan jumlah angka kematian sebanyak 13 orang.

Dinas Kesehatan Jawa Barat menyebut angka kematian akibat meluasnya kasus penularan penyakit difteri tahun ini meningkat dibanding tahun lalu. Pada 2016, terjadi 221 kasus difteri dengan angka kematian mencapai 10 orang. 

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Dodo Suhendar mengatakan sebagian besar kasus difteri terjadi di daerah berkembang di Jawa Barat. Dodo menduga hal itu disebabkan gaya hidup warga yang kurang memperhatikan kondisi kesehatan dan abai terhadap pemberian imunisasi dan vaksinasi pada anak.

"Belum tentu yang tinggal di perkotaan lebih sadar tentang imunisasi. Kalau di pedesaan biasanya lebih nurut. Jadwal imunisasi pakai kentongan saja warga langsung datang ke Posyandu. Kalau di kota beda," kata Dodo Suhendar di Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/12/2017). 

Dodo menyebutkan daerah berkembang yang ditemukan kasus difteri di Jawa Barat tahun ini adalah Purwakarta. Purwakarta menempati urutan teratas kasus difteri sebanyak 21 kejadian dengan satu orang meninggal. Disusul Karawang sebanyak 13 kasus, Depok dan Bekasi masing-masing sebanyak 12 kasus dan Garut 11 kasus. Sejumlah daerah lain juga ditemukan, namun di bawah 10 kasus. 

Dodo mengakui ada daerah di Jawa Barat yang belum terjangkau imunisasi, di samping itu juga ada warga yang menolak imunisasi. Kendala ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

"Jika belum diimunisasi ayo segera lakukan. Intinya, jangan sampai telat apabila terdapat gejala mirip difteri. Segera periksakan. Kalau terlambat, itu yang membuat banyaknya kasus meninggal," ujar Dodo. 

Baca juga:

Mudah ditangani

Penyakit difteri merupakan infeksi yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Penyakit yang mudah menular ini sebetulnya mudah ditangani dengan vaksinasi.

Penyakit difteri umumnya menular melalui air liur, muntahan, luka, kontak langsung dengan penderita difteri saat inkubasi yang berasal dari kuman bernama Corybacterium diptheriare.

Masa inkubasi difteri mencapai dua hingga lima hari, dan masa penularan dari penderita selama dua hingga empat minggu sejak masa inkubasi. Sementara penularan dari penderita utama sampai enam bulan. 

Penyakit difteri dapat melumpuhkan sistem pernapasan, fungsi jantung dan organ otak terhadap anak-anak. Jika tidak ditangani segera berakibat kematian.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Pemerintah Godok Opsi Format Pencantuman Agama Kepercayaan Di KTP

  • PLN Siap Jalani Putusan MK Soal Aturan Nikah Teman Sekantor
  • Polisi Banyuwangi Perketat Keamanan Objek Vital
  • Statistik Opta: Rooney Masih Garang Cetak Peluang Menjadi Gol

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi