Foto: Antara

KBR, Rembang– Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah melakukan berbagai penyamaran untuk mengumpulkan data – data terkait praktik pungutan liar. Bupati Rembang, Abdul Hafidz menjelaskan, ada 60 orang yang masuk dalam Tim Saber Pungli. Mereka menyamar menjadi petani hingga orang gila, untuk melancarkan misi pemberantasan pungutan liar di wilayahnya.

“Ketuanya Pak Waka, yang Wakil Ketua pak Kasi Pidana Khusus dari Kejaksaan Negeri. Selebihnya tidak kelihatan. Ada yang menyamar petani maupun orang gila. Tapi mereka mencari mangsa. Jadi hati – hati, sekarang ada Tim Saber Pungli, "  jelasnya.

Namun sejumlah kalangan meragukan kinerja Tim Saber Pungli. Abdullah, seorang pemerhati kebijakan pemerintah di Rembang menilai tim rawan tersandera oleh kepentingan dari dalam. Alasannya, anggota tim tidak ada dari unsur indipenden, sehingga penindakan berpotensi tebang pilih.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Ketua Tim Saber Pungli Kabupaten Rembang, Pranandya Subyakto mengklaim sudah mengantongi sejumlah target yang akan dibidik. Pihaknya juga berjanji tidak akan tebang pilih.

“Ada beberapa target yang sedang kita petakan, tim kami sedang bekerja. Setelah tim intelijen mendapatkan data, kemudian diserahkan kepada tim yustisi. Lha tim yustisi ini yang akan mengkaji, apakah pelaku dibina atau diteruskan ke jalur hukum. Kami tidak akan tebang pilih, siapapun yang terlibat dalam pungutan liar, pasti akan ditindak, " ungkap Pranandya kepada KBR, Minggu (18/12).

Pranandya yang juga Wakil Kepala Polres Rembang ini menambahkan Tim Saber Pungli dibantu anggaran sebesar Rp 750 juta dari Pemkab Rembang. Dalam waktu dekat akan memberikan nomor hotline, agar masyarakat mudah menyampaikan informasi tentang pungutan liar.

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!