TNI Kirim Ratusan Tentara ke Papua, Sisir Perbatasan

"Mereka ditugaskan untuk menjaga patok perbatasan. Kemudian memonitor perkembangan keimigrasian yang keluar masuk di perbatasan," kata Mirza di Bogor, Selasa (21/11/2017).

Rabu, 22 Nov 2017 18:46 WIB

Ratusan prajurit Yonif 315 Garuda bersiap diberangkatkan menuju Papua dari Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/11/2017). (Foto: KBR/Alif Irwansyah)

KBR, Bogor - TNI mengirim 450 prajurit Batalion Infanteri 315/Garuda menuju Papua, pada Selasa (21/11/2017) petang. 

Mereka ditugaskan sebagai Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) untuk menjaga perbatasan guna mengawasi keimigrasian di wilayah tersebut.

Komandan Korem 061/Suryakancana Mirza Agus mengatakan, Satgas Pamtas Yonif 315 Garuda yang diberangkatkan berjumlah 450 prajurit. Mereka akan bertugas selama 10 bulan di perbatasan Indonesia-Papua Nugini.

"Mereka ditugaskan untuk menjaga patok perbatasan. Kemudian memonitor perkembangan keimigrasian yang keluar masuk di perbatasan," kata Mirza di Bogor, Selasa (21/11/2017).

Mirza melanjutkan, selain untuk menjaga perbatasan, para prajurit juga telah disiapkan mengatasi konflik.

"Persiapan sudah dari tahun lalu. Prajurit juga telah disiapkan untuk bagaimana mengatasi aksi separatis. Tentunya mereka sudah punya bekal itu," kata Mirza.

Ratusan prajurit baret hijau ini, kata Mirza, akan bertugas di wilayah pegunungan bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini.

"Prajurit juga ditugaskan patroli di wilayah pegunungan bagian Selatan sepanjang 220 kilometer, selama 10 bulan. Di sana berbatasan langsung dengan Papua Nuguni," kata Mirza.

Ratusan tentara dari Yonif 315/Garuda itu akan menggantikan Yonif Raider 503/MK Kostrad yang telah lebih dahulu berada di perbatasan.

Mirza mengatakan target Satgas Pamtas adalah menyelesaikan dua patok perbatasan yang masih belum terselesaikan. Di samping itu, mereka juga bertugas menjaga keberadaan patok-patok perbatasan lainnya.

Terkait konflik di Tembagapura yang melibatkan tentara Organisasi Papua Merdeka (OPM), Mirza menegaskan, bahwa keberadaan mereka jauh dari perbatasan.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi