Nasib Anisa, Anak Umur 12 Tahun Berbobot Hanya 8,5 Kg

Prihatin mengatakan Anisa normal pada awal kelahiran. Namun di usia enam bulan, anaknya terserang demam tinggi berulangkali.

Jumat, 10 Nov 2017 10:19 WIB

Prihatin memeluk anaknya, Anisa yang mengalami gangguan tumbuh kembang di Cilacap Jawa Tengah. (Foto: KBR/Muh RIdlo Susanto)

KBR, Cilacap – Prihatin (39 tahun) hanya bisa pasrah sambil memandangi anak perempuannya, Alsa Anisa yang duduk di pangkuannya.

Di usia 12 tahun atau mendekati remaja, Anisa hanya berbobot 8,5 kilogram---seperti rata-rata balita usia 8 bulan. Pertumbuhan badannya seolah terhenti sejak mengalami demam tinggi di usia enam bulan. 

Anisa berasal dari Desa Rejamulya, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Ayahnya, Sarimin bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta. Sedangkan ibunya, Prihatin, bekerja sebagai tukang jahit borongan yang tidak setiap hari menerima pesanan.

Saat ini ia tinggal bersama ibu dan kakaknya di rumah yang didirikan seadanya menempel di di rumah pamannya.

Prihatin mengatakan Anisa normal pada awal kelahiran. Namun di usia enam bulan, anaknya terserang demam tinggi berulangkali. 

"Awalnya kena stip, panas tinggi. Setelah itu, jadi kena saraf. Jadi pertumbuhannya kurang sempurna. Lambat. Saya sudah kemana-mana sampai ke Jogja. Anak dipijit-pijit. Itu kalau ada uang. Tetapi, setelah dipikir-pikir, ya sudah begini saja. Pasrah saja lah," kata Prihatin, Jumat (10/11/2017).

Setelah sembuh, Anisa seperti tidak berdaya dan tidak pernah bergerak. Pertumbuhan badannya seperti terhenti. Bahkan, Anisa mulai kehilangan daya penglihatan pada usia sekitar satu tahun.

Lantaran tak punya biaya, Prihatin kesulitan membawa anaknya berobat atau menjalani terapi medis. 

Prihatin mengaku sudah membawa anaknya ke berbagai pihak, mulai dari di mantri desa, Puskesmas, Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap, hingga RS Sarjito, Yogyakarta. Namun, hingga hartanya habis, Anisa belum bisa disembuhkan. Akhirnya ia pasrah dan menerima nasib untuk merawat anak keduanya itu.

Meski memiliki kartu anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan status penerima bantuan iuran (PBI), kartu itu tidak banyak membantu untuk mengobati Anisa. Karena untuk terapi, ia harus mencari biaya transportasi ke RS Sarjito Yogyakarta. 

Prihatin mengaku tak sanggup lagi membiayai transportasi dan hidup selama melakukan program terapi. Ia memilih untuk mengobati anaknya secara tradisional dengan cara dipijat.

Saat ini Anisa mulai terlihat aktif dan mau berkomunikasi dengan orang lain. Namun, Anisa belum bisa mengucapkan banyak kata atau kalimat. Walaupun, bagi Prihatin, itu sudah cukup membahagiakan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi