Musim Peralihan, Nelayan 'Curhat' Sulit Melaut

Belum lagi pada musim angin barat, Marno melanjutkan, seringkali terjadi badai atau cuaca buruk di tengah laut. Gelombang tinggi juga bisa datang sewaktu-waktu.

Minggu, 26 Nov 2017 17:07 WIB

Ilustrasi: Nelayan Bali sedang memperbaiki jaring saat tidak melaut di Pantai Kelan, Bali lantaran cuaca buruk dan waspada gelombang tinggi. (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Cilacap – Peralihan musim sejak November ini, mengakibatkan nelayan berperahu kecil di Perairan Selatan Jawa kesulitan melaut. Musim tengah beralih dari angin timur ke angin barat. Seorang nelayan di Cilacap, Marno mengungkapkan, angin barat menyebabkan gelombang laut lebih tinggi.

Belum lagi, menurut nelayan asal Sentolo Kawat tersebut, badai atau cuaca buruk seringkali terjadi di tengah laut.  Pada musim peralihan, gelombang tinggi juga datang sewaktu-waktu. Karenanya nelayan pun tak berani ambil risiko dengan menempuh jarak jauh saat melaut.

Pada musim seperti ini, nelayan biasanya melaut dengan jarak kurang dari 5 mil dari garis pantai. Sehingga perahu bisa lekas merapat ke wilayah terlindung jika gelombang tinggi menerjang.

Malahan, apabila sudah hujan, nelayan lebih memilih untuk tak melaut.

"Tergantung ini hujan atau tidak lho. Ini kan sedang ada angin pengganti (peralihan) musim angin dari barat. Nelayan jadi mulai pada takut. Di Pantai Selatan, kalau angin dari barat, gelombangnya walah (sangat besar). Kalau angin dari utara, di sini sulit. Kalau di Pantai Utara, malah musim. Ini lebih rumit lah," keluh Marno di Cilacap, Minggu (26/11).

Baca juga:

Apalagi tambah Marno, ikan dan udang juga tak muncul ke permukaan saat hujan. Sehingga bisa dipastikan hasil tangkapan akan kecil.

Marno mengemukakan, semakin jarangnya nelayan yang melaut langsung berimbas pada pendapatan nelayan. Pasalnya, nelayan tak memiliki penghasilan lain.

Padahal, menurutnya saat ini masih masa panen udang jerbung untuk wilayah perairan di Cilacap. Namun karena peralihan musim, nelayan yang biasanya bisa melaut hingga 10 jam perhari, kini hanya melaut 5 jam perhari. Tak pelak perolehan hasil tangkapan nelayan di Cilacap pun menurun.

Marno bercerita, jelang sore nelayan sudah harus kembali ke perairan dangkal. Ini untuk mengantisipasi cuaca buruk dan gelombang tinggi yang, biasanya terjadi sore hingga malam hari.




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Pemilihan umum 2019 memang masih satu tahun lagi. Namun hingar bingar mengenai pesta akbar demokrasi m ilik rakyat Indonesia ini sudah mulai terasa saat ini.