Keluarga petani Telukjambe yang mengungsi ke Jakarta (Foto: Randyka/KBR)



KBR, Jakarta- Petani Teluk Jambe Karawang menyatakan anak-anak mereka masih merasakan trauma usai bentrok dengan perusahaan PT Pertiwi Lestari karena sengketa lahan. Dalam bentrok itu, warga berhadapan dengan petugas keamanan perusahaan dan kepolisian.

Salah satu warga, Yuli Astri, menyatakan anaknya yang berusia 7 tahun menyaksikan sendiri saat ayahnya ditangkap paksa oleh polisi. Saat itu anaknya sangat ketakutan. Setelah kejadian itu, ujar Yuli, anaknya mengalami syaraf tegang di leher dan hanya bisa tidur dalam posisi duduk.

"Dia tidak bisa tidur terlentang. Kalau dipaksa, semalaman dia nggak tidur. Dia nangis," ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Kamis (3/11/2016) sore.

"Dia lehernya sakit, kepalanya sakit, dia bilang nyut-nyut itunya (syaraf) kencang sekali. Dia nengok ke kanan, kiri, atas, bawah nggak bisa," katanya lagi.

Yuli menyatakan, dirinya sudah membawa buah hatinya ke dokter syaraf. Anaknya hanya dianjurkan untuk dikompres. Namun, kata dia, syaraf tegang itu tidak juga hilang. "Saya sudah melakukan itu semua tapi bukannya membaik malah memburuk," tandasnya.

Tambah Yuli, anaknya kini lebih sering kaget sampai gemetar. Selain itu, dia juga mudah mengeluarkan keringat dingin. "Padahal dulu dia anak yang aktif," katanya.

Sementara itu, dokter relawan Mariya Mubarika menyatakan kondisi trauma ini mesti cepat ditangani dalam 2 bulan pertama usai kejadian. Sebab, jika tidak, luka itu akan membekas. Kata dia, semestinya Dinas Sosial memberikan bantuan kepada para pengungsi ini termasuk konseling bagi anak.

Rumah Petani Karawang Mulai Digenangi Air dan Rusak
Terkait konflik lahan itu juga, kini kondisi rumah warga yang mengungsi mulai rusak. Salah satu warga, Remiyati, menyatakan rumahnya saat ini mulai tergenang air karena PT Pertiwi Lestari mulai membangun saluran air. Akibatnya, kata dia, berbagai perabotan yang ditinggalkan di rumah itu terendam. Selain itu, kata dia, pintu rumah juga dijebol paksa oleh petugas Brimob.

"Pintu saya dirusak, tempat mandi saya dijebol. Kemarin saya dapat informasi kalau Brimob sudah ke luar masuk rumah saya," ungkapnya dalam diskusi di Jakarta, Kamis (3/11/2016) siang.

"Pintu kami didobrak, pintu depan dan belakang didobrak. Kamar mandi saya diacak-acak. Mereka mandi seenaknya sendiri," tambahnya.

Remi menambahkan, warga lain yang mencoba masuk ke permukiman, diinterogasi oleh Brimob dan aparat keamanan. Kata dia, warga yang diinterogasi dipaksa memberitahu lokasi warga yang mengungsi. Mereka diancam akan dimasukkan penjara jika tidak memberi tahu.

"Mereka juga dikejar-kejar oleh petugas," katanya lagi.

Seratusan KK petani Karawang, termasuk perempuan dan anak, mengungsi ke Jakarta karena menghindari konflik lahan. Mereka saat ini tinggal di kantor LBH Jakarta dan Kontras dengan mengandalkan bantuan. Para pengungsi anak tidak bisa bersekolah dan tidak mendapatkan pendidikan di pengungsian.

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!