Sebab Lain Dokter RSUD Bondowoso Mundur, Tunggak Tunjangan Rp 1 M

"Saat saya masuk bulan Februari 2016, jasa medik sudah nunggak 5 bulan, hak lain adalah insentif spesialis tidak dibayar sejak Desember 2015."

Senin, 07 Nov 2016 20:16 WIB

Sejumlah pasien antre untuk mendapatkan pelayanan di Poli Penyakit Dalam, RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso, Senin (7/11/2016). (Foto : KBR/Friska).

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Bondowoso-
RSUD Dr. Koesnadi, Bondowoso disebut menunggak pembayaran tunjangan untuk dokter spesialis sekira Rp 1, 32 miliar. Salah satu Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Yus Deny Lanasakti mengatakan, jumlah itu berdasar perhitungan belum dibayarnya tunjangan selama setahunan untuk 22 dokter spesialis.

Kata Yus, ke-22 dokter itu pula yang menyatakan mundur dari rumah sakit itu. Itu juga menjadi salah satu alasan mundur, selain masalah manajemen, sarana prasarana alat kesehatan dan infrastruktur RSUD Dr. Koesnadi.

"Tolong digaris bawahi. Tentang jasa medik itu bukan alasan utama kami. Tapi memang tidak bisa dipungkiri itu jadi masalah. Saat saya masuk bulan Februari 2016, jasa medik sudah nunggak 5 bulan, hak lain adalah insentif spesialis tidak dibayar sejak Desember 2015. Kita tidak minta naik bayaran, tapi yang menjadi hak karena kita sudah bekerja tolong dibayar," ujarnya Yus Deny.

Dikatakan Yus Deny, soal jasa medik yang tak dibayarkan bukan hanya dokter spesialis saja, tapi semua petugas yang bekerja di RSUD. Padahal, anggaran untuk pembayaran berbagai kewajiban RSUD tersebut sudah tersedia.

"Anggarannya sudah ada. Tapi tidak dibayarkan. Setelah kami posting keluhan di medsos baru ditanggapi dengan dibayar 1 bulan. Tapi setelah itu nunggak lagi," ujarnya.

Dokter Spesialis Ortopedi, Rudi Dewantara juga menyampaikan hal serupa. Diceritakan Rudi, dirinya baru mengetahui sejak sebulan lalu bahwa berkas Jasa Raharja untuk pasien trauma tidak diperhatikan oleh pihak RSUD sejak 2015 lalu.

"Sebenarnya saya tidak tahu soal itu, karena urusan saya hanya pasien. Bagaimana mereka cepat ditangani dan tidak bingung soal administrasi. Sebulan lalu saya tahu bahwa ternyata RSUD tidak memperhatikan berkas jasa raharja sejak 2015,” katanya.

Padahal, kata Rudi, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap tindakan medik. Meski tak mempengaruhi pasien karena sudah tertangani, tak tertibnya berkas ini bisa menyebakan kerugian pada RSUD Dr. Koesnadi.

Diberitakan KBR sebelumnya, 22 Dokter Spesialis yang bertugas di RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso mengajukan surat pengunduran dan pencabutan izin praktek di rumah sakit “plat merah” tersebut. 3 diantaranya sudah menyerahkan surat per 12 Oktober lalu, sementara sisanya akan menyerahkan surat pengunduran diri hari ini.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Ini Hasil Rapat Bamus DPR soal Perppu Ormas

  • Tim Arkeolog Sumba Berupaya Cetak Kerangka Situs 2800 Tahun
  • LN: Amerika Terapkan Sanksi Baru bagi Pendukung Korea Utara
  • OR: Di Tengah Ketakpastian Draxler Didekati Sejumlah Klub

Indonesia baru merayakan dirgahayu yang ke-72. Ada banyak harapan membuncah untuk generasi penerus yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.