Aktivitas pengolahan garam di UD Apel Merah Kaliori, Rembang. Foto: Musyafa/KBR


KBR, Rembang– Para pengusaha garam di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mulai kesulitan mendapatkan pasokan garam lokal. Hal itu disebabkan hasil produksi garam merosot tajam karena cuaca ekstrem. Jika semula 1 hektar tambak, mampu menghasilkan 5 ton garam, kini kurang dari 1 ton.


Seorang pengusaha garam di Rembang, Pupon menjelaskan, berdasarkan hasil pantauannya garam di tingkat petani sudah menipis. Ia memperkirakan stok tersebut akan habis dalam 1 atau 2 bulan ke depan.

“Kelihatannya yang punya banyak–banyak ini sudah menipis semua. Tapi temen – temen dari Cirebon, Jawa Barat masih ada. Kemarin saya sempat kontak, rekan di Cirebon masih punya garam 7 ribu ton," jelasnya kepada KBR, Senin (07/11).

Pupon menambahkan pasokan garam yang kurang mengakibatkan harga garam mulai naik dari Rp500 menjadi Rp850 per kilogram. Meski demikian, ia tetap pemerintah tidak langsung mengimpor garam tanpa perhitungan yang matang. Ia khawatir impor garam yang tidak tepat dapat merugikan petani garam lokal.

Menanggapi hal ini, Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Perikanan Dan Kelautan Pemkab Rembang, Nurida Andante Islami tidak dapat berbuat banyak karena berkaitan dengan cuaca. Kata dia, produksi garam per tahun di Rembang mencapai 160 ribu ton. Namun, saat ini untuk mencapai 100 ribu ton saja sudah sulit.

Baca:

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!