Petani Singkong di Pati: Harga Anjlok Karena Impor

Rata-rata petani merugi Rp 10-Rp 21 juta per hektar.

Kamis, 10 Nov 2016 18:46 WIB

Ilustrasi. (widarsa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Pati- Ratusan petani singkong di Kabupaten Pati, kini merugi hingga miliaran rupiah akibat anjloknya harga di pasaran. Mereka kini hanya bisa pasrah, sambil menunggu kebijakan pemerintah menstabilkan harga. Sejak anjloknya harga singkong di pasaran, tiga bulan terakhir ini, petani ketela di Pati rata-rata merugi antara Rp 10 juta-Rp 21 juta per hektarnya.

Ketua Asosiasi Petani Singkong Pati, Beni Nurhadi mengatakan, anjloknya harga singkong di pasaran Rp 650/Kg, dikarenakan import tepung tapioka dari Vietnam.

"Pada tahun 2015 impornya hanya 24 ribu ton, Januri-April. Tapi pada 2016 awal ini, impornya meledak hingga empat kali lipat. Selain impor, terjadi over supply. Karena memang harga di 2015 itu, per kilogramnya bisa mencapai Rp 2500, bahkan ada yang Rp 2600," tutur Beni Nurhadi.

Selain impor dan over supply, kata Ketua Asosiasi Petani Singkong Pati, Beni Nurhadi, mekanisme harga pasar, dan tidak adanya tata niaga yang memberi perlindungan terhadap Harga Pokok Pembelian (HPP) minimal, turut memperparah harga singkong anjlok.

Menanggapi keluhan petani singkong, anggota DPR, Firman Subagyo mengaku pihaknya telah menerima permintaan Pemkab Pati, untuk mengkomunikasikan harga singkong yang anjlok dengan Kementerian Pertanian.

"Ini yang senantiasa kami protes kepada Pemerintah. Oleh karena itu, ini harus ada keberpihakan. Kami harapkan adalah, bagaimana import dipetakan secara baik. Jangan sampai impor singkong itu merusak harga pasar produk-produk lokal. Entah cabe, bawang merah, atau singkong, itu tidak boleh," ujarnya.

Asosiasi Petani Singkong Pati merilis, akibat harga singkong anjlok, total kerugian petani singkong Pati mencapai kisaran Rp 200 miliar.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Pemerintah Upayakan Pemulangan Dua Sandera Abu Sayyaf dari Filipina

  • Sopir Angkot Desak Anies Buka Jalan Jati Baru Tanah Abang
  • Macet, LA Berencana Duplikasi Papan Hollywood
  • Persebaya Tak Lagi Kejar Andik Vermansyah

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.