Sekelompok orang berseragam menyerang istigasah yang digelar Aliansi Cirebon Bersih, Senin (28/11). (Foto: Medsos)

KBR, Jakarta-  Aksi "Istigasah dan Doa Bersama untuk Cirebon Bersih" yang digelar di depan kantor Bupati Cirebon dibubarkan oleh ratusan orang berseragam loreng orange. Juru bicara Aliansi Cirebon Bersih, Ayip Muhammad Rifki mengatakan, aksi istigasah tersebut sudah mendapat izin dari kepolisian setempat. 

Atas pembubaran tersebut, Aliansi Cirebon Bersih kemudian mendatangi Polres Cirebon untuk melaporkan Bupati Sonjaya sebagai aktor intelektual yang memobilisasi massa preman untuk membubarkan paksa acara istigasah   dan doa bersama.

"Kami dari Aliansi Cirebon Bersih menuntut penuntaskan kasus Gratifikasi RSUD Arjawinangun Cirebon. Kedua, usut tuntas Korupsi Bupati Cirebon," jelas Ayip, Senin (28/11).

Dalam siaran pers yang diterima redaksi disebutkan aksi digelar pada pukul 09:00 di kantor bupati Cirebon. Sekitar 30 menit kemudian sebanyak 200an rombongan berseragam loreng masuk ke halaman kantor bupati. Selain ormas berseragam itu juga ada 50an orang yang memprovokasi jemaah. Mereka meneriakkan ujaran kebencian dan mengusir pendemo dengan menyiram air putih.  Para  Ibu-ibu lantas  ketakutan karena intimidasi dan mundur ke taman depan kantor Bupati.

Sekitar pukul 10 istigasah   dan doa bersama dimulai  dipimpin Kyai Nur Kamal. Saat itulah sekelompok orang itu  memaksa istigasah   diberhentikan.

"Jangan membuka aib bupati di depan umum, kalo memaksa dikarungin satu-satu saja," ancam mereka.

Meski diintimidasi Aliansi Cirebon Bersih  tetap  melanjutkan prosesi istigasah. Saat kyai Nur Kamal membaca doa, tiba-tiba dari dalam kantor Bupati, massa berbaju loreng orange dan preman melempari  dengan batu, botol air mineral juga pot bunga. Akibat hujan batu yg dilemparkan dari halaman  kantor bupati, sebagian terluka termasuk  Kyai Kamal yang langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat.

Jelang pukul 12 siang Aliansi Cerbon Bersih segera mendatangi Polres Cirebon untuk melaporkan Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra. Aliansi menuding bupati  sebagai aktor intelektual yang memobilisasi massa  untuk membubarkan paksa acara istigasah   dan doa bersama.


Editor: Rony Sitanggang


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!