Lulusan SMK Paling Banyak Sumbang Pengangguran Terbuka di NTB

Jumlah pengangguran terbuka dengan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menempati posisi tertinggi sebesar 11,28 persen, disusul oleh lulusan Diploma sebesar 9,40 persen.

Selasa, 08 Nov 2016 08:15 WIB

Para pencari kerja memadati arena Job Fair Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, Kamis (20/10). (Foto: ANTARA)



KBR, Mataram, Jumlah pengangguran di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Agustus 2016 sekitar 97 ribu orang, dimana Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3,94 persen.

Jumlah pengangguran terbuka dengan pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menempati posisi tertinggi sebesar 11,28 persen, disusul oleh lulusan Diploma sebesar 9,40 persen. Tingkat pengangguran terbuka paling rendah justru pada penduduk dengan pendidikan SMP yaitu sebesar 2,08 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Endang Tri Wahyuningsih mengatakan, jumlah pengangguran terbuka NTB sebesar 3,94 persen itu lebih rendah sekitar 1,75 poin persen jika dibandingkan TPT Agustus 2015, sebesar 5,69 persen.

Adapun jumlah angkatan kerja di NTB pada Agustus 2016 mencapai 2,4 juta orang, atau bertambah sekitar 208 ribu orang jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2015.

"Ini gambaran secara persentase untuk SD ke bawah dan sekolah menengah hampir empat persen. Sementara (pengangguran) yang tinggi ada di tingkat pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK. Seharusnya SMK itu kan mempunyai ahli, keterampilan. Nah barangkali mungkin perlu diciptaan lapangan kerja-lapangan kerja sesuai jurusannya. Ini harus diperhatikan SMK ini karena masih lumayan tinggi, belum tersalurkan," kata Endang, di Mataram, Senin (7/11/2016).

Baca:  Jokowi Ingin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Milik Jerman   

Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih  mengatakan, pada Agustus 2016, sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di NTB adalah sektor pertanian sekitar 38,90 persen. Diikuti sektor perdagangan sekitar 19,39 persen, sektor jasa sosial kemasyarakatan dan jasa perorangan sekitar 17,24 persen, serta sektor industri sekitar 8,87 persen.

Endang menambahkan penduduk bekerja masih didominasi mereka yang berpendidikan SD ke bawah yaitu sekitar 1,1 juta orang (47,34 persen). Penduduk bekerja berpendidikan tinggi hanya sekitar 303 ribu orang, terdiri dari 57 ribu orang (2,44 persen) orang berpendidikan Diploma dan 245 ribu orang (10,37 persen) berpendidikan universitas.

Baca: Agustus 2016, Pengangguran Terbuka Turun Setengah Juta Orang    

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Jadi Tersangka Setelah Bebas, Ini Peran Aman Abdurrahman di Kasus Bom Thamrin

  • 31 Ribu Peserta BPJS Kesehatan di Jawa Timur Menunggak Iuran Hingga Rp24 Miliar
  • Kimi Raikkonen Perpanjang Kontrak dengan Ferrari
  • Iran Akan Buka Blokir Twitter

Impor barang dari luar negeri selalu diawasi dan memiliki ketentuan, jangan sampai Anda menjadi orang yang tidak tahu ketentuan yang dimiliki Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hatta