Jepang, Negara Pertama Pengimpor Beras Organik Bondowoso

Kepastian ekspor perdana beras organik asal Bondowoso ini didapat pasca mengikuti Trade Ekspor Indonesia (TEI) 2016 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kamis, 03 Nov 2016 12:14 WIB

Padi organik. Foto: Friska Kalia

KBR, Bondowoso – Jepang, menjadi negara pertama yang akan membeli beras organik asal Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, untuk dipasarkan di negara sakura tersebut.


Ketua Gabungan Kelompok Tani di Desa Lombok Kulon, Wonosari, Mulyono mengatakan, kepastian ekspor perdana beras organik asal Bondowoso ini didapat pasca mengikuti Trade Ekspor Indonesia (TEI) 2016 di Jakarta beberapa waktu lalu. Selain Jepang, Amerika dan Saudi Arabia juga dipastikan akan membeli beras dari Desa Lombok Kulon.

“Kemarin ke Jakarta kan dalam rangka promosi dan ketemu dengan buyer dari luar negeri. Kami sudah kirim sample 500kg ke Jepang dan lolos. Ekspor kita mulai tahun depan, Jepang meminta 14 ton perbulan, Amerika 20 ton perbulan dan Saudi Arabia 20 ton perbulan,” kata Mulyono kepada KBR.

Dikatakan Mulyono, kepastian ekspor ini juga tak lepas dari diraihnya sertifikat organik internasional dari BIOCert untuk padi organik seluas 75 hektar yang terletak di Desa Lombok Kulon dan Taal Kecamatan Tapen.

Sementara, saat ini tercatat ada 105 hektar lahan yang sudah murni organik dengan sertifikat nasional dari Lembaga Sertifikasi Seloliman (LeSOS).

BIOCert merupakan lembaga inspeksi dan sertifikasi organik dan ekososial, yang juga anggota dari Cert All (Certification Alliance), yaitu aliansi lembaga sertifikasi pangan organik di Asia Pasifik untuk memberikan layanan inspeksi dan sertifikasi organik untuk pasar nasional, ASEAN, Uni Eropa, Swiss, Amerika Serikat dan Kanada.

Mulyono dan petani lain optimistis mampu memenuhi permintaan pasar terhadap kebutuhan beras organik asal Bondowoso. Ini mengacu pada tingginya produktifitas lahan organik yang mencapai 6 hingga 9 ton per hektar. Artinya, dalam setahun petani di dua desa penghasil padi organik tersebut, mampu menghasilkan 3.000 ton lebih gabah kering sawah (gks) atau sekitar 1.500 ton beras organik murni.


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Polisi Sudah Tunjuk Penyidik untuk Periksa Novel di Singapura

  • Koalisi Peduli KPK Sebut Penyerangan Air Keras Terhadap Novel Libatkan Petinggi Polri
  • Puncak Macet, 31.325 Kendaraan Keluar Tol Bogor
  • Kawanan Bersenjata Tembaki Konvoi PBB

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?