Jembatan apung. Foto: Muhammad Ridlo/KBR


KBR, Cilacap– Jembatan apung pertama di Indonesia siap dipasang di Kawasan Segara Anakan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah. Jembatan apung sepanjang 41 meter dan lebar dua meter ini dibawa dengan cara diseret sejauh 11 kilometer dari tempat perakitan (konstruksi) di Majingklak Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menuju Desa Ujung Alang Kecamatan Kampung Laut, Cilacap.


Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera), Herry Vaza mengatakan, mobilisasi jembatan memerlukan waktu hingga empat jam. Jembatan ditarik oleh lima perahu. Satu perahu bertugas sebagai penarik sekaligus pusat kemudi, sedangkan empat lainnya merupakan perahu penyangga dan pendorong.

Menurutnya, ukuran jembatan yang besar dan berat ini sempat menjadi kendala saat tubuh jembatan harus melewati aliran laguna yang sempit. Perahu kendali utama harus bermanuver agar jembatan tidak menyangkut di hutan mangrove atau kandas.

“Jadi 2015 ini study-study, kemudian di 2016 ini pemasangan dan perakitan jembatan di pinggir Sungai Citanduy. Nah, hari ini sekaligus pembawaaan ke sini (Kampung Laut) dan selanjutnya untuk dilaksanakan pemasangan di lokasi. Ini seperti jembatan biasa, bahannya dibuat dari baja, tetapi pontonnya dibuat dari gabungan komposit, sterefoam dan beton, agar bisa mengapung. Jembatan ini direncanakan untuk jalan kaki dan sepeda motor, ringan. (Kekuatan beban) antara satu hingga dua ton,” kata Kepala Puslitbang Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR, Herry Vaza, di Kampung Laut, Cilacap, Minggu (06/11/2016)

Herry Vaza menambahkan jembatan apung selanjutnya akan dirakit di lokasi yang diperkirakan memakan waktu hingga satu pekan ke depan. Jembatan ini bakal menghubungkan Desa Ujung Alang menuju Desa Klaces Kecamatan Kampung Laut yang selama ini mengandalkan perahu penyeberangan.

Ia mengatakan pilihan untuk membangun jembatan apung ini karena di Kampung Laut sulit membangun jembatan dengan konstruksi konvensional. Sebab, daratan di Kampung Laut merupakan sedimentasi yang mudah ambles. Dia mengklaim, jembatan ini lebih murah hampir sepertiga biaya yang diperlukan untuk membangun jembatan konvensional.

Berita lain: Belasan Anak Petani Telukjambe Yang Mengungsi Tak Bisa Sekolah


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!