Salah satu dokter, Yus Deny Lanasakti, menujukkan foto saat atap plafon roboh di poli mata, Senin (7/11/2016). (Foto : KBR/Friska Kalia)



KBR, Bondowoso– Komite Medik RSUD Dr. Koesnadi Bondowoso, Andreas Andrianto membeberkan alasan para dokter memutuskan membuat surat pengunduran diri kepada manajemen rumah sakit. Menurutnya, ada banyak resiko yang harus dihadapi dokter dan pasien dengan kondisi RSUD saat ini. Mulai dari padamnya listrik di tengah berlangsungnya operasi, minimnya regenerasi alat kesehatan hingga robohnya atap di sejumlah poli di rumah sakit.

"Terlalu beresiko melakukan pelayanan di RS yang dijalankan secara autopilot. Bayangkan operasi tanpa ada kepastian listrik bisa nyala atau tidak. Ditengah operasi kuret, pendarahan, listrik mati dan kita tak punya apa-apa. Kita sudah sampaikan standarnya jika listrik mati kita hanya punya waktu 7 detik supaya genset nyala. Tapi itu bisa sampai satu jam. Dan ini sudah terjadi bertahun-tahun," ujar Dokter Spesialis Bedah Onkologi ini, Senin (7/11/2016).

Dijelaskan Andrias Andrianto, tak jarang pihaknya bersama dokter spesialis lain memilih untuk merujuk pasien ke Rumah Sakit di Kabupaten Jember. Tindakan ini dipilih para dokter tak lain untuk keselamatan pasien.

"Kadang ada yang tanya kenapa dirujuk padahal dokternya ada. Itu semua karena kami tahu kualitas pelayanan dan alat di sini seperti apa. Dokter pasti punya feeling, makanya jangan sampai nyawa pasien taruhannya," jelasnya.

Selain soal alat-alat kesehatan, kondisi infrastruktur rumah sakit juga diakui memprihatinkan. Beberapa dokter spesialis, kata Andreas, pernah menjadi korban runtuhnya atap plafon saat sedang memeriksa pasien. Tak sampai di sana, Andreas juga menyebut banyak rekam medik pasien yang rusak akibat terkena air hujan karena ruang penyimpanan bocor.

"Kita di poli, tanpa pemberitahuan ada tukang melakukan pengecoran di lantai dua. Kami sudah sampaikan itu beresiko bagaimana kalau ambrol, katanya tidak mungkin. Nah ternyata ambrol kan plafonnya. Itu sudah kejadian," paparnya.

Sementara itu, Dirut RSUD Dr. Koesnadi, Agus Suwardjito, enggan menanggapi terkait pengunduran diri puluhan dokter ini. Dia hanya memastikan pelayanan di RSUD takkan terganggu dengan adanya kasus ini.

"Soal itu (mundurnya dokter) bisa ditanyakan kepada asisten I atau langsung kepada bupati. Yang jelas soal pelayanan kami pastikan semua berjalan normal," ujarnya. 

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!