Harga Cabai di Wilayah Perbatasan Naik Hingga 2 Kali Lipat

Harga cabai di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara melonjak hingga dua kali lipat.

Jumat, 11 Nov 2016 13:43 WIB

Pedagang cabai di Pasar Sentral Inhutani, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto: KBR/ Adhima)



KBR, Nunukan - Harga cabai di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara melonjak hingga dua kali lipat dalam tiga hari belakangan. Apabila biasanya harga perkilogram sekitar Rp40 ribu hingga Rp45 ribu maka kini naik menjadi Rp80 ribu hingga Rp95 ribu perkilogram.

Salah satu pedagang di Pasar Sentral Inhutani Nunukan, Rizky menuturkan, pemicu kenaikan ini lantaran minimnya pasokan cabai dari Sulawesi dan Tawau, Malaysia. Produksi cabai di dua wilayah itu menurun karena gagal panen akibat hujan deras.

"Dua hari yang lalu Rp45.000, sekarang Rp90.000, Rp80.000 itu harga. Di Nunukan kan tidak ada sudah lombok, kurang. Cuma dari Sulawesi saja dengan dari Tawau, kurang pasokannya," ujar Rizky di Nunukan, Jumat (11/11/2016).

Baca juga: Harga Cabai di Daerah Ini Mulai Turun

Kenaikan harga juga dialami komoditas sayur lainnya seperti bayam, sawi, dan kangkung. Kisaran kenaikannya juga mencapai dua kali lipat dari harga normal.

Misalnya, tutur salah satu pembeli Masita, biasanya satu ikat bayam atau sawi dihargai Rp6.000 dari tingkat pengecer, namun kini harga naik hingga Rp10.000 perikat.

"Kemarin kami beli bayam enam ribu, sekarang 10 ribu hingga 12 ribu. (Kenapa naik?) Karena kurang, pasokan masih kurang. Pengaruh itulah hujan," katanya.

Baca juga: Aplikasi Harga Sembako

Tingginya ketergantungan warga di Nunukan terhadap pasokan sayur dari wilayah Sulawesi maupun Tawau, Malaysia membuat harga komoditas itu fluktuatif. Sehingga naik turunnya harga tak bisa diprediksi.





Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Korupsi Alat Kesehatan, Ratu Atut Divonis 5,5 tahun penjara

  • Korupsi E-KTP, Jaksa Apresiasi Hakim Akui Peran Setnov
  • Pansel Klarifikasi Temuan Masyarakat Kepada Calon Komisioner Komnas HAM
  • Polisi: Tidak Ada Gejolak Sosial Pasca Pembubaran HTI di Solo

Mari dukung penyelenggaraan jaminan kesehatan nasional, dengan BPJS, dengan gotong royong semua tertolong.