Ilustrasi. (Antara)

Ilustrasi. (Antara)



KBR, Balikpapan - Pemerintah Kota Balikpapan tidak akan melakukan pembangunan fisik pada 2017 mendatang karena minimnya anggaran.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan Tara Alorante mengatakan pada tahun depan tidak ada alokasi anggaran pembangunan fisik dalam APBD Balikpapan 2017.

Tara mengatakan anggaran yang tersedia dalam APBD 2017 hanya akan digunakan untuk membayar utang proyek yang belum terselesaikan dalam APBD 2016 yang nilainya mencapai Rp300 miliar, dengan jumlah proyek mencapai 90-an buah.

Baca juga:


Akibat defisit anggaran tahun ini, Pemerintah Kota Balikpapan hanya sanggup membayar 30 persen dari nilai proyek menggunakan anggaran tahun ini, dan sisanya 70 persen dibayar pada anggaran 2017.

"Nilai kontrak saja masih banyak yang akan dibayar 2017, kan kontrak (proyek) kita rata-rata hanya 30 persen saja dibayar. Kondisi keuangan 2016 relatif sama dengan 2017. Kalau situasi seperti itu yang akan diprioritaskan dibayar adalah kontraktor. Kalau (anggaran) tidak cukup ya repot. Mudah-mudahan cukup. (Kalau nggak cukup) panjang urusannya," ujar Tara Alorante di Balikpapan, Selasa (15/11/2016).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan Tara Alorante menambahkan, kemungkinan dalam APBD 2017 anggaran untuk Dinas Pekerjaan Umum minimal Rp 300 miliar. Jika kurang dari itu maka akan menjadi persoalan, karena nilai proyek yang harus dilunasi mencapai Rp 300 miliar.

Dalam APBD 2016 sebenarnya alokasi untuk pembangunan fisik mencapai Rp400 miliar. Namun karena mengalami defisit mencapai Rp800 miliar, pemerintah Kota Balikpapan melakukan pemangkasan. Kegiatan di seluruh SKPD dipangkas, termasuk dana insentif dan tunjangan pejabat maupun PNS.

Baca: Meski Defisit, Kaltim Tetap Janjikan Bonus bagi Peraih Medali di PON XIX   

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!