LSM: Awas, Pemburu Harimau Manfaatkan Informasi dari Media untuk Beraksi

Arif mengatakan informasi keberadaan harimau yang muncul di pemberitaan media bakal akan menjadi data bagi kelompok pemburu untuk melakukan aksinya di lokasi tersebut.

Jumat, 06 Okt 2017 15:28 WIB

Kampanye #WeAreTigers dari Sumatran Tiger Project di Jambi, Kamis (5/10/2017). (Foto: KBR/Muh Antoni)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jambi - Aktivis lingkungan dan pelestari satwa mendorong media agar lebih bijak dan positif dalam memberitakan konflik harimau dengan manusia. 

Staf spesialis di Sumatran Tiger Project, Hisbullah Arif mengatakan kelompok pemburu harimau saat ini diyakini terus melakukan pantauan ke lokasi-lokasi keberadaan harimau untuk diburu, dengan memanfaatkan pemberitaan di media. 

Arif berharap media tidak mengabarkan informasi secara menyolok agar keberadaan harimau tidak diendus oleh para pemburu harimau.

"Kalau terjadi konflik antara manusia dan harimau, temen-temen media cenderung langsung menginformasikan keberadaan harimau itu ke publik, dan itu bisa dimanfaatkan oleh kelompok pemburu," kata Arif dalam kegiatan advokasi dan komunikasi Generasi Pelindung Harimau Sumatra di Sungai Penuh, Jambi, Kamis (5/10/2017).

Sumatran Tiger Project merupakan proyek yang melibatkan Global Environment Facility (GEF), UNDP dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

 


Petugas kepolisian menunjukkan barang bukti kulit harimau Sumatera saat pengungkapan penjualan kulit satwa di Polda Jambi, Selasa (3/10/2017). (Foto: ANTARA/Wahdi Septiawan)

Arif mengatakan informasi keberadaan harimau yang muncul di pemberitaan media bakal akan menjadi data bagi kelompok pemburu untuk melakukan aksinya di lokasi tersebut. 

Arif juga menyoroti sejumlah pemberitaan media yang menggunakan bahasa negatif ketika menyampaikan informasi mengenai konflik antara harimau dan warga.

"Bahasa yang menyolok ketika memberitakan konflik harimau dan warga bisa menyebabkan keresahan di masyarakat. Misalnya adanya serangan harimau atau ada jejak harimau yang ditemukan---tapi media tidak mengidentifikasi terlebih dahulu," tambahnya.

Dia berharap media menyajikan informasi mengenai konflik antara harimau dan warga secara berimbang dan obyektif, tanpa langsung menyalahkan satwa langka itu. Pencitraan negatif terhadap harimau bisa semakin meminggirkan nasib hewan tersebut.

"Dengan kondisi ancaman terhadap harimau saat ini, kita tidak bisa menilai aspek kesalahan ada pada harimau tersebut. Harus di lihat kondisi di lapangan seperti apa, agar stigma di masyarakat tidak negatif terhadap harimau Sumatera," kata Arif. 

Proyek Sumatran Tiger Project menyebutkan ancaman terbesar terhadap habitat Harimau Sumatra saat ini adalah kerusakan hutan dan kehilangan habitat. Menurut data LSM WWF, angka tutupan hutan yang sebelumnya 25,3 juta hektare tahun 1985 terus menurun hingga 12,8 juta pada tahun 2009. 

Selain itu, Sumatran Tiger Project juga menyebut data WWF yang mencatat sebanyak 50 harimau Sumatra ditangkap setiap tahunnya pada rentang tahun 1998 sampai dengan 2002. 

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi