Kolam Limbah PLTU Rembang Makan Korban Jiwa

Korban bernama Nur Hayati (15 tahun), warga Desa Leran Kecamatan Sluke. Seorang petugas keamanan PLTU Sluke menemukan jenazah Nur ketika berpatroli di sekitar kolam penampungan air limbah.

Kamis, 05 Okt 2017 16:52 WIB

Kolam air limbah PLTU Sluke Rembang Jawa Tengah. (Foto: KBR/Musyafa)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Rembang – Seorang remaja perempuan ditemukan tewas mengapung di kolam penampungan limbah air bagian dalam lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada Rabu malam (4/10/2017).

Korban bernama Nur Hayati (15 tahun), warga Desa Leran Kecamatan Sluke. Seorang petugas keamanan PLTU Sluke menemukan jenazah Nur ketika berpatroli di sekitar kolam penampungan air limbah. 

Kepala Desa Leran, Imron Rosidi mengatakan korban sempat dicari keluarganya, karena menghilang sejak hari Selasa lalu. Menurut penjelasan keluarga, kataImron, Nur pernah mempunyai riwayat gangguan kejiwaan. 

Tidak diketahui mengapa korban bisa menerobos area PLTU. Namun, kata Imron, diduga korban masuk dari pinggir laut. Apalagi, kata Imron, sudah dua kali petugas keamanan PLTU melihat Nur Hayati bermain di sekitar kolam penampungan limbah.

"Kalau masuk dari depan, tidak mungkin, karena penjagaannya sangat ketat. Apalagi temboknya tinggi. Tapi kalau masuk dari arah laut atau sebelah utara masih memungkinkan. Beberapa waktu lalu dia pernah dipergoki security bermain di dalam area PLTU. Saya sendiri heran, mengapa bisa datang lagi ke tempat itu," kata Imron Rosidi kepada KBR, di Rembang, Kamis (5/10/2017).

Kepala Kepolisian Sektor Sluke, Rembang, Sunarmin mengatakan saat jenazah korban dievakuasi tim medis dan Unit Inafis Polres Rembang, kulit jenazah sudah terkelupas karena diperkirakan sudah dua hari di kolam. 

Jenazah korban selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Dr R Soetrasno Rembang. Dari pemeriksaan luar, polisi tidak menemukan tanda–tanda kekerasan. Selepas dari rumah sakit, jenazah langsung diserahkan keluarga korban, untuk dimakamkan.

"Tapi keluarga menolak jenazah diotopsi. Tim medis juga memastikan tidak ada tanda–tanda kekerasan. Jadi penyebab meninggalnya Nur Hayati, kemungkinan terpeleset dan tidak bisa berenang. Padahal kedalaman kolam mencapai tiga meter. Kamis dini hari tadi, jenazah dimakamkan," kata Sunarmin. 

Sunarmin meminta manajemen PLTU Sluke memperketat pengamanan, terutama di bagian belakang PLTU. Salah satunya dengan lebih menggiatkan patroli, sehingga dapat mencegah warga yang tidak berkepentingan masuk.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.