Jembatan Gantung Putus, Puluhan Siswa SMP Hanyut di Sungai Musi

Puluhan pelajar yang hanyut itu berasal dari SMP Negeri 8 Rejang Lebong, Bengkulu.

Jumat, 13 Okt 2017 15:27 WIB

Warga sedang memperbaiki pipa air di jembatan gantung desa lubuk ubar Curup Selatan yang putus pada Jumat (13/10). (Foto:M.antoni/KBR)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Rejang Lebong- Puluhan pelajar SMP Negeri 8 Rejang Lebong hanyut di sungai Musi, Bengkulu. Mereka terjebur saat   bermain di jembatan gantung di Desa Lubuk Ubar Dusun I Desa Lubuk Ubar kecamatan Curup Selatan.

Menurut pengakuan saksi mata warga sekitar Yogi, mengatakan kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 12.00 siang.

“kejadiannya waktu khotbah Jumat. Anak-anak ini melintasi dan bermain di jembatan, mungkin digoyang-goyang tali sling jembatan putus dan mereka jatuh ke sungai,” terang Yogi kepada KBR, Jumat (13/10).

Ketika jembatan itu terputus, beberapa siswa meminta pertolongan, Yogi yang saat itu rumahnya tidak jauh dari lokasi dan berupaya menyelamtakan beberapa siswa yang pingsan karena tenggelam.

“beberapa lainnya ada yang bisa berenang sehingga langsung selamat. Tapi ada juga yang kehabisan tenaga sehingga pingsan, itu yang saya selamatkan dengan beberapa warga lain,” tutur Yogi.

Sementara itu, pembina Osis SMP Negeri 8 Rejang Lebong Ramaini menbgatakan  sebanyak 27 siswa dan siswi menjadi korban jembatan putus. Kata dia,  semuanya hanya mengalami luka ringan dan trauma.

“Mereka ada yang kelas IX dan VIII. Semuanya hanya cedera ringan selain kita tangani di UKS sekolah ada juga yang dibawa ke rumah sakit tetapi setelah ditangani langsung diperbolehkan pulang,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Desa Lubuk Ubar Harpin menjelaskan kondisi jembatan tersebut masih terbilang baik dan bisa dilewati karena selama ini dimanfaatkan warga untuk menuju   perkebunan.

“Jembatan tersebut bagus, papannya baru kami perbaiki. Tetapi mungkin anak-anak ini bermain di sana dengan melompat-lompat sehingga tali sling jembatan putus juga karena kelebihan kapasitas,” jelasnya.

Jembatan gantung yang biasa dilewati petani tersebut dibangun sejak tahun 1972 hanya menggunakan batang bambu. Pada  1992 direnovasi dengan menggunakan tali seling. Kemudian pada 2015 renovasi dilakukan warga dengan memperbaiki  papan untuk pejalan kaki.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi