Warga Sumba Timur Sesalkan Ketidakhadiran PLN di 'Malam Seribu Lilin'

Warga tidak bisa menyampaikan keluhan mereka karena ketidakhadiran PLN dalam acara tersebut.

Minggu, 02 Okt 2016 14:11 WIB

Foto: Heinrich Dengi/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Sumba- Warga Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyesalkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Area Sumba yang tak hadir di acara 'Malam 1000 Lilin Pengharapan Buat Sumba' pada Sabtu (1/10) malam. Ketua Panitia, Amos Kulandima beralasan, warga tidak bisa menyampaikan keluhan mereka karena ketidakhadiran PLN dalam acara tersebut.


“Kami sudah usahakan mengundang pihak PLN utuk hadir malam ini, untuk mendengar langsung keluhan warga, tetapi mereka tidak hadir, kemarin saya ke kantor PLN untuk mengundang PLN, tetapi dijawab staf kepalanya ada ke KM 7, saya tunggu 1 jam tetapi tidak balik-balik, jadi kami putuskan untuk laksanakan saja kegiatan Malam 1.000 lilin buat Sumba, meskipun pihak PLN tidak hadir,” kata Ketua Panitia Malam 1.000 Lilin Pengharapan Buat Sumba Amos Kulandima, Minggu (01/10/2016) di Kompleks Wisata Suembak Matawai.

Sementara itu, salah satu warga yang hadir dalam acara 'Malam 1.000 Lilin Buat Sumba', Umbu Hina mengatakan, masih dirugikan dengan pemadaman listrik selama ini. Padahal, ia dan warga lainnya telah membayar listrik sesuai ketentuan.

“Kemarin masih mati listriknya, anak-anak mau belajar bagaimana, karena kalau sudah jam 11 malam listrik hidup, mau belajar bagaimana anak-anak sudah mangatok,” kata Umbu Hina.

Warga lain dari Kelurahan Kambajawa, Ferdinan mengatakan, dirinya mendengar keluhan dari warga yang mengatakan sudah 2 buah kulkas yang rusak akibat listrik yang sering padam dan menyala tiba-tiba.

Baca: Tekor 2 MW, PLN Area Sumba Lakukan Pemadaman Bergilir


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.