Perwakilan dari sejumlah Desa Adat menggelar doa bersama untuk menolak reklamasi di Teluk Benoa. (Foto: KBR/ Yulius Martony)



KBR, Bali - Gerakan koalisi masyarakat sipil untuk menolak reklamasi di Teluk Benoa kembali beraksi. Kali ini perlawanan itu dilakukan melalui doa bersama di lima titik persembahyangan.

Koordinator gerakan tolak reklamasi For Bali, Wayan Gendo mengatakan, perjuangan menolak reklamasi tak hanya dilakukan dengan aksi turun ke jalan. Melainkan juga doa bersama sebagai wujud menjaga harmonisasi dengan alam.

"Gerakan akan terus berjalan baik itu melalui aksi turun ke jalan, diskusi-diskusi dan berbagai bentuknya. Yang jelas sesuai dengan komitmen Yang Si Betul Pasubayan Desa Adat Pekraman," kata Wayan Gendo di tengah doa bersama di Bali, Sabtu (1/10/2016).

Doa bersama ini dilakukan di lima penjuru angin, mulai dari bagian utara, barat, timur, selatan, hingga berakhir di titik tengah Teluk Benoa. Dengan digelarnya upacara tersebut, Wayan Gendo berharap, perjuangan rakyat mendapat berkah dan anugerah dari alam semesta.

Dengan satu tujuan yang tak berubah: meminta Presiden Joko Widodo mencabut Perpres Nomor 51 tahun 2014 tentang Reklamasi Teluk Benoa. Peraturan presiden tersebut merupakan perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan SARBAGITA.

Baca juga:

"Bali tolak reklamasi menyatakan perjuangan ini tidak akan pernah selesai sampai proyek ini dibatalkan" tukas Wayan Gendo.

Dalam ritual Pakelem di Teluk Benoa, sejumlah tokoh masyarakat adat menunjukkan raut sedih atas rencana reklamasi. Wayan Gendo pun menjelaskan, peserta ritual hari ini merupakan perwakilan dari setiap desa adat.

Peralatan upacara dibawa menggunakan perahu nelayan ke tepian daratan Teluk Benoa. Prosesi upacara berlangsung lancar dengan penjagaan dari aparat kepolisian setempat.

Baca juga: Reklamasi Teluk Benoa, Ini Alasan Menteri Susi Perpanjang Izin




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!