Safari 10 Kota, Suciwati Galang Dukungan Penuntasan Kasus Pembunuhan Munir

"Kita datang ke Manado Sulawesi Utara hanya satu tujuan yaitu meminta dukungan masyarakat Sulut untuk membantu mengawal"

Jumat, 28 Okt 2016 19:14 WIB

Suciwati (kedua dari kiri) bersama aktivis kemanusiaan di Manado Sulawesi Utara. (Foto: KBR/Zulkifli M.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Manado- Suciwati istri Munir mendesak Jokowi menuntaskan kasus pembunuhan suaminya. Suci juga mendesak Pemerintah membuka dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) kepada publik.

Suciwati  meminta dukungan dari masyarakat Indonesia,  dimulai dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Saat bertemu dengan aktivis kemanusiaan di Manado Suci meminta ketegasan Presiden Joko Widodo untuk konsisten mengungkap kasus pembunuhan suaminya.


"Kita datang ke Manado Sulawesi Utara hanya satu tujuan yaitu meminta dukungan masyarakat Sulut untuk membantu mengawal dan mendesak Pemerintah membuka dokumen kasus pembunuhan  aktivis HAM Munir," Ujar Suciwati. 


Suciwati menilai ada kelalaian dan ketidakpatuhan hukum di bawah administrasi pemerintahan Jokowi, terkait hilangnya dokumen hasil kerja TPF Munit. Dia juga menyesalkan sikap pemerintah yang belum menuntaskan kasus pembunuhan suaminya.


Aktivis Kontras Yati Andriyani mengatakan genderang perang terhadap sikap pemerintah yang masih belum membuka dokumen TPF kasus Munir, mulai ditabuh dari Manado. Selanjutnya mereka akan mengunjungi 10 kota lainnya di seantero Indonesia.

Berbagai lembaga kemanusiaan  di Sulut  memberikan dukungan terhadap Suciwati dan Kontras. Dukungan di antaranya datang dari   Presidium Dewan Adat, Yayasan Dian Rakyat Indonesia, Komunitas Budaya Tionghoa Sulut,  Aliansi Masyarakat Adat Nusantara,  AJI Manado, LBH Manado,  Walhi Sulut,  Swara Parangpuan,  Yayasan Suara Nurani Minaesa   dan Anggota DPD RI Asal Sulut Benny Ramdani.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

KPK Mulai Kerjakan Berkas Korupsi e-KTP Setya Novanto

  • Musim Kemarau BPBD Situbondo Waspada Bencana Kebakaran Hutan
  • Tujuh Orang Tewas akibat Crane Ambruk di Cina
  • Rumor Transfer Neymar Bikin Manajer Liverpool Heran

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.