Wali Kota Bogor Bima Arya merazia angkutan kota (angkot) di Jl Juanda, yang selama ini menjadi biang kemacetan di daerah itu, (27/9/2016). (Foto: ANTARA)



KBR, Bogor - Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor Jawa Barat melakukan razia angkutan umum kota (angkot) selama sepekan. Hasilnya banyak sekali terjadi pelanggaran.

Dari 3413 angkot yang beroperasi di Kota Bogor, hampir setengah dari jumlah pengemudinya tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kepala Seksi Pengendalian dan Penertiban DLLAJ Kota Bogor Empar Suparta mengatakan kebanyakan angkot yang terjaring saat razia dikemudikan oleh sopir tembak.

Selain tak punya SIM, para pengemudi juga tidak memiliki surat izin trayek serta kartu lolos uji kir kendaraan.

"Saat diperiksa kebanyakan tidak punya SIM, ada juga yang punya SIM tapi sudah mati. Bahkan mereka malah memberikan SIM C ketika diperiksa," kata Empar Suparta, saat ditemui di kantor DLLAJ Kota Bogr, Kamis (6/10/2016).

Baca: Terburuk Kedua Versi Waze, Wali Kota Bogor Bakal Rombak DLLAJ

Empar mengatakan dari hasil razia, para sopir terang-terangan mengakui jika mereka sopir tembak.

"Mereka biasanya itu yang sopir jam-jaman (sopir tembak), jadi mereka tidak punya surat-surat," katanya.

Selama sepekan razia, lanjut Empar, DLLAJ menjaring ratusan angkot, dimana rata-rata kendaraan tidak dilengkapi STNK dan izin trayek. Selain itu kartu KIR pun sudah tidak berlaku.

"Ada 38 angkot yang kita tahan, sekarang sedang dalam proses pemberkasan untuk segera disidang," ucapnya.

DLLAJ Kota Bogor akan terus melakukan razia paling tidak hingga akhir 2016. Razia dilakukan untuk menertibkan angkot, yang menjadi biang kemacetan di Kota Bogor.

"Kesepakatan Muspida, razia terus kita lakukan. Minimal sampai akhir tahun," tukasnya.

Baca: Pemkot Bogor Bersiap Konversi Angkot Dengan Bus

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!