Seorang petugas SPBU sedang melayani pembelian BBM Pertalite. (Foto: setkab.go.id/tanpa tanggal)



KBR, Balikpapan - Setelah sempat membatasi penjualan premium, perlahan-lahan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menghapus penjualan BBM RON 88 itu di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan TImur.

Manajer SPBU Nipah-nipah Penajam Paser Utara Erwan Saleh mengatakan SPBU-nya tak lagi berjualan premium sejak September lalu. BBM kelas Premium mulai tersisih oleh kehadiran BBM Pertalite dengan RON 90. Pertalite mulai diperkenalkan Pertamina sejak pertengahan 2015 lalu.

Baca: Pertamina Resmi Luncurkan Pertalite

Erwan mengatakan pada saat stok Premium dikurang dan menjual Pertalite, jumlah pembeli sempat turun. Namun setelah itu penjualan normal kembali.

Erwan bahkan mengklaim kini konsumen BBM mulai menyukai BBM Pertalite, karena dianggap lebih bagus ketimbang Premium. Setiap hari SPBU Nipah-nipah di Penajam Paser Utara mampu menjual Pertalite sebanyak 10 ribu kilo liter.

"Awalnya, tanpa ada (penjualan) premium antusias pembeli mungkin masih biasa saja bagi yang belum tahu. Tapi bagi yang sudah tahu, sudah merasakan hasilnya Pertalite, sudah ada yang sebagian beralih ke Pertalite. Mereka bilang sih bahan bakarnya lebih irit, mesin tarikannya lebih enak," kata Erwan Saleh, Selasa (25/10/2016).

Baca: Ini Dia SPBU Pertalite di Kaltim

Erwan Saleh mengatakan khusus pada pertengahan bulan, penjualan Pertalite turun sedikit karena warga yang tinggal di pedalaman memilih tidak keluar. Warga pedalaman hanya keluar pada awal-awal bulan saja.

Ia mengimbau PT Pertamina agar lebih aktif men-sosialisasikan Pertalite ke masyarakat, karena masih banyak masyarakat khususnya di wilayah pedalaman Kalimantan TImur belum mengetahui adanya produk Pertalite.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!