Ilustrasi: Stop pernikahan anak



KBR, Bondowoso– Sebanyak 1.504 anak di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terpaksa menikah di bawah umur. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Bondowoso Achmad Prayitno mengatakan, meski masih tinggi angka ini sudah turun jika dibanding 2015 lalu.

“Jumlah tahun 2015 lalu pernikahan anak mencapai 2.250 anak atau 45,91%,” kata Achmad Prayitno kepada KBR, Kamis (27/10/2016).

Hasil penelusuran BPPKB, faktor ekonomi masih menjadi faktor utama banyak orang tua menikahkan anak meski usianya belum cukup matang. Selain itu, minimnya pemahaman anak tentang kesehatan reproduksi juga menjadi salah satu penyebab anak harus menikah di bawah umur.

Kata Prayitno, tingginya angka pernikahan anak ini   menjadi penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi di Bondowoso. Catatan BPPKB menyebut, angka kematian ibu di 2015 mencapai 19 kasus dengan angka kematian bayi sebanyak 167 kasus. Sementara di 2016 hingga bulan Oktober angka kematian ibu sudah mencapai 16 orang dengan kematian bayi sebanyak 103 kasus.

“Memang masih tinggi. Makanya kami bentuk banyak forum anak mulai dari sekolah, pesantren, desa hingga Kabupaten. Mereka turut serta memberikan pemahaman bahaya menikahkan anak di bawah umur,” ujarnya.

BPPKB juga menggandeng orang tua   agar memberikan pendidikan reproduksi dan pendidikan seksual sedini mungkin. Menurut Prayitno, sudah bukan hal tabu membicarakan sex dengan anak di zaman teknologi seperti saat ini. Hal ini penting untuk mencegah mereka mencari tahu sendiri sehingga berpotensi terjebak pada pehamanan yang salah.

"Harus itu diberi tahu tentang badan mereka seperti apa sejak kecil. Jadi mereka tidak cari tahu sendiri yang kemudian bisa salah jalan. Semua bisa dicari melalui telepon selular sekarang jadi jangan kecolongan untuk orang tua," pesannya.

Tingginya angka pernikahan anak ini mengantarkan Bondowoso meraih posisi ketiga sebagai Kabupaten dengan pernikahan anak tertinggi di Jawa Timur setelah Sampang dan Probolinggo.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!