Sejumlah perahu melintas di Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Muh Ridlo/KBR)



KBR, Cilacap – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah berencana mengeruk Laguna Segara Anakan yang makin dangkal.

Proposal rencana itu telah disampaikan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membantu pendanaan pengerukan. Pengerukan Laguna Segara Anakan dianggap mendesak mengingkat pendangkalan di wilayah itu semakin parah.

Sekretaris DKP Cilacap, Hadiman mengatakan pendangkalan Laguna Segara Anakan disebabkan sedimentasi yang terbawa sejumlah aliran sungai.

Sumber sedimentasi terbesar adalah Sungai Citanduy yang memang bermuara di Laguna Segara Anakan. Selain itu sumbangan sedimentasi juga berasal dari Sungai Cimeneng.

Baca: Laguna Segara Anakan Cilacap Diproyeksikan Jadi Laboratorium Alam

Hadiman mengatakan sejumlah titik Di Laguna Segara Anakan perlu segera dikeruk. Selanjutnya, material hasil kerukan akan disingkirkan di wilayah disposal, atau tempat penyimpanan yang jauh dari lokasi.

Tiga titik dipersiapkan sebagai wilayah disposal yakni Klaces, Ujunggagak dan Panikel.

Hadiman menjelaskan, DKP juga berkoordinasi dengan lintas kementerian, seperti Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Tidak tertutup kemungkinan Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS) juga akan dilibatkan dalam pengerukan yang direncanakan akan dilakukan pada 2017.

"Ini kan ada rencana pengerukan Laguna Segara Anakan. Jadi apakah itu BBWS atau Kementerian PUPR, ya nanti pendanaannya apakah menjadi kewenangannya PUPR atau BBWS. Sifatnya, kami memberi masukan kajian tentang penyelamatan Segara Anakan. Kami mencari wilayah disposal, itu ada di Panikel, Ujung Gagak," kata Hadiman, Selasa (18/10/2016).

Baca: Rencana Cilacap Jadi Singapore of Java, Ini Permintaan Nelayan Cilacap

Rencana pengerukan Laguna Segara Anakan disambut baik para nelayan di Cilacap. Tokoh nelayan di Ujung Gagak, Kampung Laut, Sarmidi mengatakan pengerukan Laguna Segara Anakan sudah ditunggu oleh nelayan.

Segara Anakan terakhir kali dikeruk pada 1995. Saat itu, usai dikeruk, kondisi Laguna membaik dan menyumbang peningkatan perolehan tangkapan ikan nelayan.

Namun, Sarmidi mengusulkan agar material kerukan langsung dibuang ke tengah laut, daripada ditumpuk di sejumlah lokasi. Ia khawatir, jika ditumpuk di lokasi disposal, material tersebut akan kembali lagi ke laguna.

Luasan Segara Anakan pada mulanya mencapai 6000 hektar lebih. namun, sejak 1970-an, luasan semakin menyusut. Saat ini luas Laguna hanya tersisa sekitar 400-an hektar. Hal ini mempersempit wilayah tangkapan ikan nelayan. Segara anakan berada di antara Pulau Jawa dan Pulau Nusakambangan.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!