Pagi Ini, Tim Gabungan Lanjutkan Penyisiran Korban Jembatan Ambruk di Bali

Sebab menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali Dewa Made Indra, penyisiran pada malam tadi terpaksa dihentikan sementara lantaran kondisi gelap menyulitkan tim.

Senin, 17 Okt 2016 07:59 WIB

Jembatan penyeberangan yang menghubungkan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, ambruk. (Foto: BNPB)



KBR, Jakarta - Pencarian korban akibat ambruknya jembatan penyeberangan yang mengubungkan Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, di Bali kembali dilanjutkan pagi ini (Senin, 17/10/2016). Sebab menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali Dewa Made Indra, penyisiran pada malam tadi (Minggu, 16/10/2016) terpaksa dihentikan sementara lantaran kondisi gelap menyulitkan tim.

"(Masih ada korban yang belum ditemukan?) Itu yang belum diketahui. Karena malam, jadi akses transportasi ke sana juga tidak bisa. Jadi untuk sementara dihentikan. Kami juga belum tahu, warga di sana juga belum tahu apa masih ada yang dibawah atau tidak," papar Made Indra kepada KBR.

"Kami akan ke sana memastikan apakah masih ada orang hilang atau tidak. Ini kan kejadiannya malam. Penerangan di sana juga tidak ada, warga juga tidak berani karena gelombang air laut lagi pasang," imbuhnya.

Sementara ini, BPBD mencatat sebanyak delapan orang tewas dan 30 lainnya luka-luka akibat robohnya jembatan. Hingga kini belum diketahui penyebab kejadian tersebut. Namun kata Made Indra, dugaan sementara menunjukkan ambruknya jembatan penghubung dua pulau kecil di timur Bali itu lantaran kelebihan beban. Sehingga, seling jembatan putus.

Made Indra menuturkan, beberapa kali jembatan penyeberangan itu rusak kendati sudah diperbaiki.

Baca juga:

Saat roboh, menurut Made Indra, di atas jembatan terdapat banyak warga. Sebab saat itu sedang berlangsung upacara keagamaan di Pura Bakung Ceningan, yakni Hari Nyepi Segara. Ritual tak dilakukan di laut, sehingga banyak warga yang melewati jembatan.

Sebelum runtuh pada Minggu (16/10/2016) malam sekitar pukul 18.30 Wita, jembatan sudah goyang-goyang hingga kemudian ambruk. Beberapa pengendara motor dan pejalan kaki terjatuh ke laut yang sedang surut. Sebagian kemudian berenang dan berjalan menuju selat. Sementara, warga lainnya berusaha menyelamatkan korban.



Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?