Peresmian Situs Bung Karno di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada 2013 silam. (Foto: Endekab.go.id)



KBR, Kupang - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur akan menggelar kegiatan Bulan Sukarno di Kota Ende pada 2017 mendatang.

Helatan ini menyusul terpilihnya Situs Bung Karno sebagai situs sejarah terpopuler pada ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Marius Ardu Jelamu mengatakan, telah merancang rangkaian kegiatan pada Bulan Sukarno. Helatan ini, kata dia, tak hanya mengupas soal kehidupan dan profil Sukarno.

"Untuk mendukung terpilihnya Situs Bung Karno sebagai situs sejarah yang terpopuler, tahun depan juga kita akan melakukan Bulan Sukarno, yaitu akan menyelenggarakan berbagai event yang terkait dengan Sukarno," papar Marius Ardu Jelamu di Kupang, Sabtu (1/10/2016).

"Tentu tidak hanya membicarakan tentang bagaimana Sukarno, tentang bagaimana nasioalisme, bagaimana kehidupan Sukarno, bagaimana pidato-pidatonya yang menggelegar, tetapi juga kita akan memadukan itu dengan kegiatan-kegiatan dari semua SKPD. Dan rencananya tahun depan di Ende, kita akan mengundang semua kabupaten di seluruh Nusa Teggara Timur untuk menghadiri bulan Sukarno," imbuhnya.

Baca juga:

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Marius Ardu Jelamu menambahkan, kegiatan Bulan Sukarno ini akan dikolaborasikan dengan Parade Kebangsaan--sebuah kegiatan yang sudah terlebih dulu rutin saban tahun digelar Pemkab Ende.

Bulan Sukarno akan diawali dengan parade kebangsaan dengan puncak acara pada 14 Agustus. Kegiatannya, memberi sesajian di Puncak Gunung Kelimutu. Dia pun mengatakan, seluruh kegiatan ini dilangsungkan sekaligus untuk memberikan gambaran ke dunia internasional bahwa Situs Bung Karno mampu menjadi ikon situs sejarah terpopuler di Indonesia.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!