Lagi, Raskin Berkutu Dikeluhkan Warga di Jombang

Soal raskin berkualitas buruk itu sudah terjadi dua bulan terakhir ini.

Senin, 10 Okt 2016 14:17 WIB

Petugas memeriksa puluhan sak raskin berkutu di balai Desa Bareng Kecamatan Bareng, Jombang, Senin (10/10/2016). Foto: KBR/Muji Lestari



KBR, Jombang– Warga di Desa/ Kecamatan Bareng, Jombang, Jawa Timur mengeluhkan beras untuk warga miskin (raskin) tidak layak konsumsi.  Sekitar 200 sak atau 3 ton raskin untuk warga setempat juga dilaporkan berkutu dan berbau apek.

Merespon itu, Kepala Desa Bareng, Subeki, mengatakan, pihaknya terpakasa tetap menyalurkan jatah beras bersubsidi tersebut kepada warganya. Namun demikian dirinya siap menampung aduan masyarakat yang menolak dan mengembalikan jatah raskinnya.

Subeki menuturkan, soal raskin berkualitas buruk itu sudah terjadi dua bulan terakhir ini.

Bulan lalu, pihaknya juga mendapati raskin dalam kondisi remuk dan berbau apek serta berwarna kuning kehitam-hitaman. Namun, warga penerima enggan mengembalikannya kepada pihak Desa.

“Baru ini tadi sekitar 200 sak ( yang dilaporkan). Kalau memang semuanya nanti berkutu kemungkinan kita akan kembalikan ke Bulog. Kalau Desa menginginkan (raskin) dikembalikan, itu desa sendiri yang mengantar ke Bulog, kepala desa nanti yang mengeluarkan biaya kesana”, kata Subeki, Senin (10/10/16).

Subeki,  menjelaskan, di Desa Bareng ada sekitar 800 an lebih Kepala Keluarga (KK) penerima beras bersubsidi atau raskin dengan total beras yang dibagikan sebanyak 12,7 ton.

Sebelumnya, raskin berkualitas buruk juga dikeluhkan warga di Desa Tanjung Wadung Kecamatan Kabuh. Di Desa setempat banyak warga yang mengaku jatah beras bersubsidi yang dibagikan Perum Bulog beberapa waktu lalu berkutu dan berwarna serta berbau apek. Bahkan sejumlah warga juga menemukan banyak ulat di dalam kemasannya. 

Warga berharap, jatah raskin yang dibagikan Pemerintah berkualitas bagus dan setara dengan beras yang dijual dipasaran.   

Editor: Malika

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Mendagri: Fraksi Yang Tak Terima Silakan ke MK

  • Setengah Calon Haji Cilacap Beresiko Tinggi
  • Kabar Kematian Chester Bennington Buat Geger Dunia Maya
  • Liverpool Tolak Tawaran Barcelona untuk Countinho

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.