Konflik Lahan di Jambi, Setelah 47 Kali Pertemuan Orang Rimba Dapat 114 Hektare

"Perjuangan ini sudah 3 tahun. Jadi, perjuangan ini memang panjang, baru kemarin dapat keputusan.”

Kamis, 20 Okt 2016 17:51 WIB

Pemangku adat Orang Rimba, Menti Ngelambo menerakan cap jempol di dokumen kesepakatan penyerahan lahan. (Foto: KBR/Elvidayanti)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jambi- Kelompok Orang Rimba Sungai Terap, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari Jambi berterimakasih kepada semua pihak yang memfasilitasi penyelesaian masalah antara Orang Rimba dan Hutan Tanaman Industri (HTI) karet PT. Wana Perintis. Pemangku adat Orang Rimba, Menti Ngelambo mengaku senang, perjuangan panjang Orang Rimba membuahkan hasil.

“Hari ini rencananya memang mau balik, balik ke masyarakat diberitahu bahwa lahan yang 114 hektar sudah dapat. Semua raja-raja (pemimpin) sudah bantu kita.  (Senang perasaan?) Iya, senang.  (Sudah berapa lama memperjuangkan?) Perjuangan ini sudah 3 tahun, kami hitung pertemuannya ada sekitar 47 kali. Jadi, perjuangan ini memang panjang, baru kemarin dapat keputusan.” Ujar Pemangku adat Orang Rimba, Menti Ngelambo, Kamis (20/10).

Konflik kelompok Orang Rimba Sungai Terap dengan PT. Wana Perintis mulai terjadi sejak tahun 2010, ketika itu PT. Wana Perintis  yang mendapat izin sejak 1996 mulai melakukan pembersihan lahan  di kawasan izin kelola perusahaan. Padahal, kawasan tersebut sebelumnya adalah wilayah jelajah Orang Rimba.

Kesepakatan hak Orang Rimba atas lahan seluas 114 hektare baru dicapai pada 18 Oktober 2016 lalu. PT. Wana Perintis bersedia memberikan hak penuh pengelolaan 114 hektare lahan kepada Orang Rimba setelah pemerintah menawarkan kompensasi penghapusan atau keringanan nilai provisi sumber daya hutan (PSDH) dari investasi yang dikeluarkan perusahaan pada areal tanaman seluas 114 hektare yang diberikan kepada Orang Rimba.

Editor: Rony Sitanggang
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Selama ini kita sering mendengar berita mengenai orang yang meninggal akibat penyakit diabetes, sehingga menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit yang ditakuti.