Ilustrasi



KBR, Yogyakarta-
Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional mendorong pelaku usaha di Indonesia menambah sentuhan desain untuk meningkatkan nilai tambah produk. Peningkatan nilai tambah diperlukan untuk mendongkrak nilai ekspor nonmigas yang tengah mengalami penurunan.

Dirjen Pengembangan Eskpor Nasional Kemendag Arlinda menyatakan telah bekerjasama dengan 22 perusahaan di 11 daerah untuk "mempercantik" produk mereka di pusat pengembangan desain. Hasilnya produk-produk furnitur, perhiasan dan home decor yang dikeluarkan, laku ekspor dan juga memiliki nilai jual tinggi.

"Memang sentuhan desain sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah. Biasanya dengan sentuhan-sentuhan desain harga menjadi lebih mahal. Kami punya Indonesia Design Development Centre atau Pusat Pengembangan Desain Indonesia yang merupakan kolaborasi desainer, pelaku usaha dan akademisi. Kami ingin teman-teman di Yogyakarta bisa meningkatkan nilai tambah produknya karena lebih banyak produk kreatif, furnitur dan tekstil yang dihasilkan," katanya di Yogyakarta, Jumat (28/10/2016).

Lewat pusat pengembangan desain, sejumlah produk potensial ekspor dari Indonesia dipoles sedemikian rupa sehingga bernilai tinggi. "Satu kursi kayu saja bisa dihargai 1400 Euro," bangganya.

Arlinda menambahkan, tahun ini secara keseluruhan pihaknya membukukan nilai ekspor nasional sebesar USD 1,023 M. Nilai tersebut naik 12,7 persen dari tahun lalu.

"Penggeraknya antara lain dari furnitur, makanan olahan, bumbu dan essential oil. Paling banyak keluar ke India, Malaysia, Singapura, Swiss dan Prancis," jelasnya. 

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!