Jembatan Putus, Siswa Perbatasan Nunukan Menginap Seminggu di Sekolah

Warga beberapa desa juga terpaksa berenang atau bergelantungan pada kawat (sling) baja sisa jembatan gantung yang rusak untuk menyeberangi sungai selebar 30 meter itu menuju desa lain.

Selasa, 18 Okt 2016 10:00 WIB

Seorang warga mencoba bergantung pada kawat jembatan yang rusak di desa Long Umung Nunukan. Jembatan ini menjadi penghubung satu-satunya antardesa di daerah perbatasan Nunukan Kaltara. (Foto: Aprem/Ad

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Nunukan
– Sejumlah siswa SMP di Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara terpaksa menginap sepakan di asrama sekolah.

Mereka tidak bisa berangkat pulang ke sekolah setiap hari karena terputusnya jembatan yang menghubungkan beberapa desa di wilayah perbatasan dengan sekolah.

Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Nunukan, Aprem mengatakan selain merepotkan anak sekolah, warga beberapa desa juga terpaksa berenang atau bergelantungan pada kawat (sling) baja sisa jembatan gantung yang rusak untuk menyeberangi sungai selebar 30 meter itu menuju desa lain.

Warga terpaksa mengambil langkah membahayakan itu karena tidak ada jalan alternatif untuk menuju sekolah atau daerah lain.

"Yang nginap itu dari Desa Pa Raye, Desa Wa Yagung dan Desa Bungayan. Merekabaru pulang hari Sabtu. Otomatis begitu, (karena) tidak ada jalan lain, jadi mereka tetap mengikuti jalan itu. Yang tidak bisa berenang ya mau tidak mau dia harus bergantung lewat situ," ujar Aprem Selasa (18/10/2016).

Aprem menambahkan jembatan gantung itu sangat dibutuhkan oleh warga tiga desa yaitu Desa Pa Raya, Desa Wa Yagung dan Desa Bongaya. Jembatan itu merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan dengan desa lain di wilayah perbatasan.

Aprem mengatakan warga menyuarakan harapan agar pemerintah daerah segera membangun jembatan tersebut. Jembatan itu sudah rusak tiga tahun ini.

Selain menyulitkan anak berangkat sekolah, warga juga kesulitan memperoleh kebutuhan pokok maupun kesulitan membawa hasil panen padi mereka ke luar daerah.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.