Ilustrasi: Ketakutan PKI. (Foto: Tom Lin)



KBR, Purbalingga – Ketakutan terhadap paham komunisme muncul di Jawa Tengah. Hal tersebut ditunjukkan melalui imbauan dari Komandan Korem 071/Wijayakusuma Purwokerto, Suhardi yang meminta masyarakat mewaspadai bahaya komunisme. Ia menggunakan istilah, kemunculan bahaya laten komunis.

Kata dia, di sejumlah daerah masih terdapat pengikut paham komunis yang menurutnya bertransformasi menjadi berbagai bentuk. Komunisme, lanjutnya, bisa tumbuh lagi apabila kemiskinan dan kesenjangan sosial masih terjadi di Indonesia.

Sehingga, perlu waktu panjang dan bertahap untuk mengikis paham tersebut. Yang paling efektif, menurutnya, adalah dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan begitu, gerakan yang berlawanan dengan ideologi pancasila bisa dibendung.

Belum lagi, saat ini kata dia, masyarakat Indonesia juga berhadapan dengan bahaya penyebaran radikalisme dan terorisme.

"Untuk ancaman radikalisme sendiri itu kan merupakan bahaya laten. Jadi, saya pikir, kita harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Dan daerahnya kan masih sama. Tetapi mungkin jenisnya akan berbeda," kata Suhardi di Banyumas.

Baca juga:

Ketakutan terhadap komunisme tersebut, menurut pegiat komunitas film di Purbalingga, Jawa Tengah merupakan kekhawatiran berlebih. Ketua Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga, Bowo Leksono menduga, phobia komunisme itu akibat dari stigma dan sisa propaganda pada masa Soeharto.

Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas film yang tengah menggarap film dokumenter konflik agraria dan kuburan massal pasca tragedi 1965 bersama para jurnalis AJI Purbalingga dan kelompok tani dari Serikat Tani Mandiri (SeTAM) Cilacap.

Bowo pun khawatir, ketakutan berlebih dan segala bentuk pelarangan kegiatan itu akan menutup upaya meluruskan sejarah yang sebelumnya diciptakan penguasa saat itu, Orde Baru.

Pasca 1965, diperkirakan ratusan ribu orang terbunuh lantaran dituduh terlibat gerakan makar atau terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), selain yang disiksa dan dipenjara tanpa proses pengadilan.

"Muncul istilah itu kan sebenarnya stigma. Konspirasi itu, karena sejarah itu kan dibuat oleh sebuah rezim. Ketika rezim berganti kan, ada pihak-pihak yang berusaha menguak kebenaran. Dan (ada juga) yang memendam kebenaran tidak boleh ada yang menggali kebenaran itu," ujar Bowo Leksono.

Lagi pula, Bowo melanjutkan, komunis sebagai gerakan politik terbukti gagal di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Bahkan, di negara asalnya, Uni Sovyet, paham ini pun tumbang. Itu sebab, ia menilai komunisme juga takkan bisa berkembang di Indonesia.

"Di dunia ini kan sudah terbukti gagal. Begitu pula di Indonesia. Kemudian muncul istilah 'komunis gaya baru' itu seperti apa lagi. Yang komunis lama saja, belum selesai belajar itu kemudian sudah dilarang," kata Bowo Leksono di Purbalingga.

Lebih lanjut Bowo menjelaskan, melalui film dokumenter yang sedang dia garap, akan terangkum fakta-fakta mengenai rangkaian reka ulang sejarah. Sehingga memberikan pandangan baru, selain sejarah yang selama ini sudah disematkan sejak di bangku sekolah dasar.

Baca juga:

Itu sebab, ia justru menantang para pihak yang khawatir terhadap bahaya laten komunis untuk membuat film dokumenter, namun dari sisi yang berbeda. Sehingga kedua gagasan bisa disandingkan dan menjadi bahan diskusi.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto dan Komunitas Film CLC Purbalingga membuat film dokumenter konflik agraria dan kuburan massal pasca tragedi 1965.

Proses pengambilan gambar dimulai 16 September 2016 lalu dan diperkirakan akan diselesaikan November mendatang. Film ini juga diperkuat dengan wawancara terhadap bekas pelaku, bekas tahanan politik PKI dan juga masyarakat biasa, terutama perempuan.





Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!