Seorang petani menjemur gabah di penggilingan padi di Temanggung Jawa Tengah, Kamis (20/10/2016). Harga gabah di tingkat petani anjlok, diperkirakan karena musim panen raya atau karena membanjirnya beras impor. (Foto: ANTARA)



KBR, Cilacap – Harga gabah di Cilacap Jawa Tengah terus anjlok sepanjang 2016 ini. Saat ini harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani dibeli seharga Rp4 ribu per kilogram untuk gabah panenan masa tanam kedua (MT2), dan Rp3,900 per kilogram gabah simpanan dari masa tanam pertama (MT1).

Seorang petani Cilacap, Turyono mengatakan pada panenan MT1 bulan Maret lalu, harga gabah masih berkisar Rp4,300 hingga Rp4,500 per kilogram. Namun harga terus turn hingga mencapai Rp3,900 per kilogram.

Harga gabah di Cilacap, saat ini termasuk terendah dalam tiga tahun terakhir. Pada Oktober 2015 lalu, harga gabah mencapai Rp5,500 per kilogram atau turun Rp1,500 per kilogram dalam periode yang sama.

Turyono mengatakan harga gabah sebesar Rp3,900 per kilogram tidak bisa menutup biaya sarana produksi pertanian yang kian tinggi. Padahal pembiayaan naik, seperti ongkos traktor, ongkos tanam dan harga pupuk.

"Sekarang harganya Rp3,900 per kilogram, itu gabah lawas (lama). Kalau yang baru itu Rp4,000 per kilogram. Ya (untuk biaya produksi) itu tidak cukup. Harganya menurun. Beda dengan yang dulu, kalau gabah yang baru itu Rp5500 per kilogram. Kalau saya lihat berita itu karena banyak impor dari luar negeri, sehingga di sini murah. Ya (petani) rugi, tidak sesuai dengan modalnya, sekarang pupuk urea kan mahal," kata Turyono di Cilacap, Jumat (21/10/2016).

Baca: 2 Tahun Jokowi-JK: Impor Beras Meroket

Pengusaha beras di kawasan Cilacap barat, Sugeng Riyadi mengatakan saat ini pasar beras di Jakarta, Bandung dan sejumlah kota besar tengah lesu. Menurut dia, hal ini banyak disebabkan suplai beras yang membludak sejak Juni 2016 lalu.

Beras grosir (karungan) dijual dengan harga Rp7,500 per kilogram untuk beras biasa dan Rp8,000 per kilogram untuk beras premium. Sugeng menduga, suplai beras impor berlebih menyebabkan pasar beras lokal lesu.

Pada Juli lalu harga beras sempat naik selama Ramadhan dan lebaran Idul Fitri. Namun, pasca lebaran, permintaan beras kembali turun yang berakibat turunnya harga.

Baca: Temukan Gudang Beras Oplosan, Bareskrim akan Periksa Bulog

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!