Demo Tolak Dokter Layanan Primer, IDI Solo Bagi-bagi Bunga

"Sistem Jaminan Kesehatan Nasional itu bukan kesalahan dokter. Ini sistem yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan menjadikan kita seperti ini."

Senin, 24 Okt 2016 14:45 WIB

Dokter di Solo demo menolak DLP. (Foto: KBR/Yudha S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Solo- Sebanyak 200an  dokter dari berbagai rumah sakit maupun mahasiswa pendidikan dokter di Solo, Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi menolak sistem pendidikan dokter layanan primer atau DLP. Ratusan dokter tersebut juga menyoroti sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang digelontorkan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Solo,  Adji Suwandono mengatakan tambahan pendidikan dokter layanan primer akan mengganggu proses regenarasi dokter. Selain itu juga akan berdampak pada biaya tambahan biaya pelayanan kesehatan masyarakat.

Menurut Aji pemerintah sebaiknya membatalkan sistem tambahan dokter layanan primer dan membenahi sistem jaminan kesehatan masyarakat.

"Kesimpang siuran tentang layanan kesehatan di Indonesia berupa JKN belum tuntas. Masih banyak masyarakat yang merasa kok tidak seperti yang diharapkan. Ya inilah kita lewat aksi damai ini. Sistem Jaminan Kesehatan Nasional itu bukan kesalahan dokter. Ini sistem yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan menjadikan kita seperti ini. Padahal tahun 2019 akan diberlakukan universal coverage, setiap warga negara harus mendapat atau mempunyai  asuransi kesehatan. Selama ini berada di BPJS sebagai pelaksana." Ujar Ketua IDI  Cabang Solo,  Adji Suwandono, Senin (24/10).

Adji melanjutkan, "kemudian tuntutan yang  kedua yaitu, program pemerintah menambah lagi pendidikan untuk dokter berupa program studi Dokter Layanan Primer. Kita selama menjadi dokter sudah bertahun-tahun mengikuti pendidikan, kompetensi, hingga profesi  butuh waktu 7-8 tahun. Ini mau ditambah lagi 2-3 tahun. Apa yang masyarakat bilang jika ingin berobat ternyata dokternya masih sekolah DLP, nanti malah semakin membuat masyarakat enggan menekuni pendidikan atau profesi dokter."

Dalam aksinya  ratusan dokter menggunakan seragam putih   dan membentangkan poster berisi tulisan reformasi sistem kesehatan dan pendidikan kedokteran dan  perbaiki jaminan kesehatan masyarakat. Selain itu jangan memberatkan masyarakat kecil, darurat reformasi kesehatan,  orang miskin boleh jadi dokter, dan sebagainya.

Aksi juga diwarnai teatrikal menggambarkan tekanan dokter jika ada pasien yang mengalami kematian saat menjalani pengobatan atau perawatan. Sejumlah dokter peserta aksi juga membagikan ratusan bunga kepada pengguna jalan yang melintas di sekitar Jalan Slamet Riyadi Solo tempat aksi tersebut digelar.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Kemenhub Pelajari Putusan MA yang Batalkan Tarif Bawah Transportasi Online

  • Pemerintah Buka Investasi Asing untuk E-Commerce Jadi 60 Persen
  • Pansus Minta Rekaman Pemeriksaan Miryam S Haryani
  • Tak Kembalikan Aset, Kejati Malut Ancam Perkarakan Eks Pejabat

Impor barang dari luar negeri selalu diawasi dan memiliki ketentuan, jangan sampai Anda menjadi orang yang tidak tahu ketentuan yang dimiliki Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hatta