Kepala BBPOM Bandung Abdul Rahim menunjukan contoh barang ilegal yang berhasil disita dari puluhan sarana distribusi di Jawa Barat di Kantor BBPOM, Jalan Pasteur, Bandung, Senin (31/10). (Arie Nugraha/KBR)



KBR, Bandung- Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung menyita hampir 30 ribu barang ilegal senilai lebih dari Rp 1 miliar. Penyitaan barang ilegal ini merupakan hasil dilakukannya penertiban pasar dari kosmetika dan obat tradisional yang mengandung bahan kimia berbahaya pada April dan Oktober 2016.

Menurut Kepala BBPOM Bandung Abdul Rahim, kosmetika dan obat tradisional ilegal yang mengandung bahan kimia berbahaya itu dari lebih 80 sarana distribusi barang.

"Kita temukan ada obat tradisional yang tanpa izin edar. Kemudian ada juga kosmetik yang tidak ada notifikasinya. Ada obat-obat psikotropika, cukup banyak ini temuannya yang semuanya kita dapatkan di sarana distribusi," kata Abdul Rahim di Kantor BBPOM, Jalan Pasteur, Bandung, Senin (31/10).

Kepala BBPOM Bandung Abdul Rahim mengatakan selain dari sarana distribusi, barang ilegal tersebut diperoleh juga di toko kosmetika, toko herbal, apotek dan klinik kecantikan. Dia merinci untuk temuan barang ilegal berupa kosmetik sebanyak hampir 18 ribu, obat tradisional sebanyak lebih dari 10 ribu, obat psikotropika sebanyak lebih dari 1000 dan pangan ilegal lebih dari 100.

BBPOM Bandung menyatakan seluruh pemilih sarana distribusi yang ditemukan mengedarkan barang ilegal tersebut akan dilakukan pembinaan usai sarananya ditutup sementara waktu. Pembinaan ini dilakukan karena seluruh pemilik sarana distribusi tersebut tidak memiliki riwayat pelanggaran pengedaran barang ilegal sebelumnya.

Nantinya, seluruh barang ilegal yang berhasil disita oleh BBPOM tersebut akan dimusnahkan.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!