Ilustrasi tambang ilegal. (Foto: minerba.esdm.go.id)



KBR, Jakarta
- Lokasi penambangan emas tak berizin (ilegal) di Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi dilanda longsor.

Musibah itu terjadi Senin (24/10/2016) sekitar pukul 13.30 WIB. Sekitar 11 orang dinyatakan tertimbun.

Salah seorang pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jambi, Dalmanto menjelaskan, saat ini tim sedang menuju ke lokasi bencana untuk melakukan evakuasi. Belum diketahui nasib belasan orang yang tertimbun itu.

"Mengingat lokasinya cukup jauh, kemungkinan tim baru akan sampai pada siang hari ini. Kapolres setempat juga sudah berkoordinasi dengan BPBD Merangin untuk penanganannya, termasuk juga menyiapkan tim dari BASARNAS untuk meluncur ke sana. Sementara itu, alat berat juga sudah disiagakan di daerah dekat-dekat lokasi. Apabila dibutuhkan tinggal dikerahkan saja," kata Dalmanto ketika dihubungi KBR melalui sambungan telepon.

Dalmanto menambahkan, kondisi air sungai yang sedang meninggi membuat tim yang dikirim gagal mencapai lokasi longsor, sehingga pencarian belum bisa dilaksanakan.

Tambang emas ilegal itu dikabarkan milik seorang warga Merangin, yang digali tidak jauh dari bibir sungai. Saat tambang digali sudah mencapai kedalaman 25 meter, air sungai merembes masuk ke dalam lubang, sehingga mengakibatkan longsor.

Kegiatan penambangan emas tanpa izin di Provinsi Jambi marak belakangan ini. Tidak saja di Kabupaten Merangin, tapi juga di kabupaten lain. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jambi menyebut ada 45 temuan kegiatan tambang emas ilegal, terbanyak di Kabupaten Sarolangun.

Dinas ESDM Jambi berdalih tidak bisa menindak kegiatan tambang itu karena kewenangan sudah diambil alih pemerintah pusat.

Baca juga: Kepolisian Banyuwangi Tutup 30an Tambang Pasir Ilegal

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!