Banjir Cilacap, BPBD Dirikan Dapur Umum Mandiri

Dapur umum mandiri adalah dapur umum yang dikelola sendiri oleh para pengungsi.

Selasa, 11 Okt 2016 09:48 WIB

Sejumlah Warga mengantre di Posko Kesehatan Penungsi di Balaidesa Sidareja, Cilacap. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)

KBR, Cilacap– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mendirikan dapur umum mandiri di pengungsian. Kepala Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Cilacap, Gatot Arif Widodo mengatakan, dapur umum mandiri adalah dapur umum yang dikelola sendiri oleh para pengungsi.


Menurutnya, kesibukan di dapur umum ini secara psikologis akan membuat para pengungsi terhindar dari kebosanan. BPBD, kata Gatot, hanya menyediakan peralatan memasak lengkap dan bahan makanan mentah. Selanjutnya, pengungsi akan memasak sesuai dengan seleranya.

Namun begitu, Gatot mengemukakan dapur umum mandiri hanya dilakukan saat kondisi memungkinkan. Jika jumlah pengungsi terlalu banyak, maka BPBD akan mengambil alih tanggung jawab di dapur umum. Kata dia, situasi saat ini memungkinkan pengungsi mempersiapkan makanannya sendiri.

Gatot menjelaskan, ketinggian air di sejumlah desa perlahan mulai surut. Namun, di Dusun Cibenon Desa Sidareja, Dusun Gunungsari Desa Gunungreja dan sebagian Desa Tinggarjaya ketinggian air masih berkisar 80 centimeter hingga 150 centimeter.

"Dapur umum ini adalah dapur umum mandiri. Dapur mandiri itu artinya kita berikan materialnya, mereka bisa masak sendiri. Seperti di sini. Sudah ada kompor, sudah ada MCK, sudah ada sumber air, mereka bisa masak sendiri. Dapur umum yang lain, tersentral, atau mungkin yang diadakan oleh organik BPBD atau relawan. Jika jumlahnya banyak, alatnya terbatas, maka kita ambil alih," jelas Gatot Arif Widodo.

Baca: Bencana Banjir Pangandaran, Ribuan Keluarga Mengungsi

Gatot menambahkan jumlah pengungsi hingga Selasa pagi berjumlah 63 keluarga yang terdiri dari 230 jiwa. Mereka tersebar di lima posko pengungsian, yakni di aula Koramil Sidareja, aula Kecamatan Sidareja, Balaidesa Sidareja, Balai RT Citayem Sidareja dan SDN 6 Sidareja.

Data BPBD, jumlah rumah yang terendam di tiga desa yakni 1.457 unit. Masing-masing di Desa Sidareja 550 rumah, Desa Gunungreja 787 rumah, dan Desa Tinggarjaya 120 rumah.

Terkait jalur longsor di Panulisan Kecamatan Daeyuhluhur yang sempat memutus arus lalu lintas antara Jawa Tengah menuju Jawa Barat dan sebaliknya, Kepala Unit Pelaksana Teknis BPBD Cilacap Wilayah Majenang, Edi Sapto Priyono mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menyiagakan alat berat di lokasi longsor. Selain itu, beberapa alat berat lain juga disiagakan di jalur rawan longsor, seperti di Cikukun Kecamatan Wanareja.

Hujan deras dua hari terakhir mengakibatkan banjir dan longsor di Kabupaten Cilacap. Tercatat, belasan desa di tiga kecamatan terendam bannjir. Yakni, Kecamatan Patimuan, Kedungreja dan Kecamatan Sidareja.

Editor: Sasmito 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.