Angkat Potensi Lokal, Desa Ini Gelar Festival Tahu

Produksi tahu di Kalisari dimulai pada tahun 1940an.

Minggu, 30 Okt 2016 15:21 WIB

Unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah tahu menjadi biogas di Desa Kalisari, Cilongok, Banyumas. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)

KBR, Banyumas- Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menggelar festival tahu untuk mengangkat potensi lokal sebagai desa penghasil tahu terbesar di Kabupaten Banyumas. Juru bicara Panitia Festival Tahu, Sukarno mengatakan, festival ini digelar tiga hari, mulai hari Jumat (28/10)  hingga Minggu (30/10).

Beragam acara dilakukan dalam festival kuliner ini. Antara lain, talk show ekonomi kerakyatan yang melibatkan unsur pemerintah kabupaten, anggota DPRD RI, perguruan tinggi, dan kalangan perbankan.

Festival ini, kata Sukarno, bertujuan sebagai media promosi supaya tahu Kalisari semakin dikenal oleh warga di luar Banyumas. Dia berharap, generasi muda di Kalisari tumbuh minatnya untuk berwirausaha.

Sukarno menjelaskan produk sampingan tahu yang berbahan dasar kedelai belum termanfaatkan secara maksimal. Antara lain, tahu unyil, kerupuk tahu dan sejumlah makanan lain yang berasal dari limbah tahu. Sukarno mengungkapkan, produksi tahu di Kalisari dimulai pada tahun 1940an. Saat ini, pengrajin berjumlah 280 orang.

“Dengan penyelenggaraan kuliner tahu Kalisari. Tujuan kami adalah, upaya program revolusi mental, yaitu supaya pemuda di Kalisari mau terjun berwirausaha di bidang tahu. Kemudian yang kedua sebagai media promosi potensi unggulan Desa Kalisari. Dengan adanya Festival Tahu ini, mudah-mudahan menjadi promosi kita. Tidak hanya di Kabupaten Banyumas saja, melainkan sampai ke luar Jawa bahkan luar negeri,” kata Sukarno, Minggu (30/10/2016).

Sementara, Kepala Desa Kalisari Aziz Samsuri mengatakan Festival Tahu tak hanya mengkampanyekan produksi tahu. Lebih dari itu, kata Aziz, festival ini juga mengkampanyekan gerakan cinta lingkungan. Sebab, hampir seluruh limbah produksi tahu sudah dimanfaatkan di tiga unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang disebut sebagai Biolita. 

Air limbah tersebut diubah menjadi biogas yang digunakan untuk memasak oleh 210 keluarga di Desa Kalisari. Selain itu, IPAL Biolita juga dimanfaatkan untuk penerangan jalan.

Aziz menambahkan, total produksi tahu Kalisasi mencapai setara 15 ton kedelai per hari. Pemasarannya sudah menjangkau 5 Kabupaten Provinsi Jawa Tengah bagian selatan.

Berita lain: Jemaat GBKP Pasar Minggu 'Ditolak' Beribadah di Kecamatan


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.