Siswa SMK Tamanan menunjukkan proses membatik. Foto: Friska Kalia/KBR


KBR, Bondowoso – Ditetapkannya Batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu, membawa dampak cukup siginifikan bagi perkembangan batik di Indonesia. Ini bisa dilihat dari munculnya banyak batik–batik dari berbagai daerah di Indonesia dengan ciri khas dan motif yang beragam. Tak terkecuali di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Memiliki batik khas dengan motif daun singkong, batik Bondowoso terus berbenah melengkapi kekayaan batik asli Indonesia.

Budaya membatik di Bondowoso tak hanya bisa ditemui di sentra–sentra perajin batik, namun juga di dalam gedung sekolah. SMK Tamanan, menjadi salah satu pelopor yang membawa masuk budaya membatik ke sekolah.

Insruktur dari Program Studi Batik di SMK Tamanan, Suyitno mengatakan, budaya batik perlu diajarkan di sekolah karena batik Indonesia terancam tak memiliki penerus. Sebabnya, minat anak muda untuk menjadi perajin batik masih kecil.

“Sekolah kami membuka jurusan keahlian batik awal 2004. Saat itu yang mendasari adalah keprihatinan pada batik Bondowoso karena mati suri. Tidak ada penerus dan greget untuk terjun ke sana. Bahkan saat itu hanya memproduksi taplak meja saja,” kata Suyitno saat ditemui KBR, Minggu (2/10/2016).

Dikatakan Suyitno, awalnya peminat untuk masuk di Jurusan Griya Tekstile memang tidak banyak. Bahkan perlu usaha ekstra untuk mempromosikan jurusan baru di SMK Tamanan ini. Namun saat ini, program studi inilah yang menjadi unggulan di SMK Tamanan. Suyitno menuturkan, berkat pembelajaran di sekolah ini pula, banyak alumni SMK Tamanan yang kemudian membuka usaha batik pasca lulus sekolah.

“Alhamdulillah, setelah beberapa tahun kami berjalan, sudah banyak anak–anak yang sukses membuka usaha. Meski awalnya kecil–kecilan sekarang semua sudah berjalan. Bahkan batik–batik yang digunakan oleh PNS di Pemkab Bondowoso adalah hasil karya anak–anak kami,” ungkapnya.

Menjamurnya perajin batik di Tamanan, akhirnya membuat kecamatan ini menjadi sentra batik di Bondowoso. Ada puluhan perajin batik di Kecamatan Tamanan yang saat ini memproduksi berbagai batik motif khas Bondowoso untuk dipasarkan ke berbagai daerah.

Tak sampai disitu, perajin batik di Kecamatan juga terus membumikan batik Bondowoso ke berbagai kalangan. Salah satu perajin batik di Dusun Lumbung, Sofiah bahkan telah mengajarkan anak-anak usia dini untuk belajar proses membatik di galeri miliknya.

“Batik kita perlu penerus, jadi saya rutin mengajarkan anak – anak TK atau SD di lingkungan sekitar saya untuk mulai belajar membatik. Selain dari sekitar sini, ada banyak juga yang datang dari kecamatan lain untuk belajar,” kata Sofiah.

Baca juga:Bondowoso Terima Bantuan Bibit Kopi Rp 1,2 Miliar


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!