Paparisa Ambon Bergerak, Lahir dari Keinginan Hadirnya Rumah Bersama

Paparisa Ambon Bergerak merangkul orang dari latar belakang agama dan suku, serta daerah yang berbeda.

Senin, 10 Sep 2018 12:52 WIB

Paparisa Ambon Bergerak yang digagas oleh Pierre Adelaar Ajawaila.

KBR, Jakarta – Diawali kegelisahan panjang tentang arti sebuah perubahan, sejumlah komunitas kreatif di kota Ambon, Maluku, duduk bersama.

Mereka ingin mempunyai sebuah rumah bersama, tempat ide-ide dibuat. Dari situ, banyak hal positif yang muncul dari anak anak muda ambon.

Impian itu pun terwujud dengan adanya Paparisa Ambon Bergerak, sebuah rumah yang berlokasi di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Maluku. Paparisa Ambon muncul sebagai bentuk keinginan komunitas mengenai keberadaan ruang bersama untuk saling berinteraksi.

Selama ini, interaksi antar komunitas itu jarang dilakukan di sebuah tempat yang menetap. Biasanya dari kafe ke kafe ataupun hanya sekedar di pinggir jalan.

Selain beragam komunitas, di Paparisa Ambon Bergerak juga terdapat orang-orang dari latar belakang agama dan suku, serta daerah yang berbeda.

Istilah Paparisa Ambon Bergerak merupakan gabungan dari dua istilah, yaitu Paparisa dan Ambon Bergerak. Ambon Bergerak merupakan kampanye semangat komunitas muda di Ambon yang memang sudah bergerak dari sekitar tahun 2010.

Ambon Bergerak menggaungkan semangat memajukan hal-hal positif mengenai Ambon. Sementara Paparisa merupakan istilah bahasa Ambon yang berarti rumah. Dengan demikian, Paparisa Ambon Bergerak berarti rumah komunitas komunitas muda yang sama-sama berada dalam Ambon Bergerak.

"Waktu itu kita kumpulnya masih di pinggir jalan. Lalu kita membuat semacam basecamp atau tempat berkumpul itu di tahun 2014. Kebetulan kita mendapatkan bantuan dari teman-teman ICT Watch Jakarta. Akhirnya kami sama-sama membuat namanya Paparisa Ambon Bergerak. Dari adanya rumah Paparisa Ambon Bergerak ini kemudian bisa dibuat kelas-kelas dengan bebas. Karena, sudah ada tempat dan teman-teman bisa berkumpul, hangout, dan juga bisa membuat hal-hal positif disitu," ujar Pierre Adelaar Ajawaila, Penggagas Paparisa Ambon Bergerak. 



Perpustakaan Paparisa Ambon Bergerak

Dari tahun lalu mereka sudah mencoba membuat website, dengan nama Jibu-Jibu. Dalam bahasa Ambon, Jibu-jibu artinya orang yang menjajahkan kembali. Namun mereka masih melihat potensi-potensi yang ada. Menurut Pierre, para aktivis Paparisa Ambon Bergerak ternyata mengalami kesulitan untuk keeping up.

"Takutnya nanti teman-teman agak keteteran. Karena itu. nantinya kita akan ubah responnya tidak lagi untuk kreatifitas teman-teman tapi juga untuk produk-produk lokal dari ribuan UKM yang ada di Ambon. Itu yang sedang kita coba untuk ubah ke arah situ," ujar Pierre Adelaar Ajawaila.

Dilansir dari Indonesia Development Forum 2018, selain kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, Pierre mengatakan kendala lain ada di kapasitas sumber daya manusia. Ekonomi digital tentu membutuhkan kreativitas dan strategi masyarakat agar bisa bersaing dengan produk di daerah lain. Sementara di Maluku, kata Pierre, masih banyak masyarakat yang masih berpikir jangka pendek.

Karena itulah, Pierre berharap infrastruktur digital semakin masif di Maluku. Dia dan teman-temannya juga berupaya meningkatkan kapasitas anak-anak muda di daerahnya agar mampu masuk di pasar digital.

Paparisa berencana menginisiasi start up atau platform tempat memasarkan produk-produk Maluku.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika menargetkan jaringan internet di Provinsi Maluku rampung pada tahun 2019.

Dikutip dari Antaranews.com, Menkominfo Rudiantara mengatakan proyek Palapa Ring atau dikenal dengan kabel serat optik telah menjangkau Provinsi Papua dan akan menghubungkan Maluku. Proyek ini bisa menyalurkan layanan internet dengan kecepatan hingga 10 Mbps ke pedesaan dan 20 Mbps  di perkotaan.

Ruang Paparisa Ambon Bergerak terbuka bagi kelompok manapun yang ingin membuka ruang dialog dan mencintai perdamaian tanpa membatasi syarat komunitas tertentu yang ingin bergabung dan berjejaring. Pierre mengatakan aktivitas apapun asal kreatif akan mengikis semua sekat antar-agama di Ambon.

"Dari dulu mereka selalu ingin membuat semacam festival kreatifitas, kemudian menjadi semacam garda depan agar orang-orang di Ambon dan orang dari luar Ambon juga bisa melihat anak-anak muda di ambon kreatif. Kemudian menyatukan potensi anak muda Ambon dalam festival tersebut dan kemudian menunjukannya secara luas," kata Pierre.

Editor: Agus Luqman

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.