Stok Bantuan Air Bersih di Cilacap Hampir Habis

BPBD berencana menggunakan dana penanganan darurat bencana kekeringan tahun 2017 yang dianggarkan sebesar Rp100 juta.

Minggu, 10 Sep 2017 14:26 WIB

Bantuan air bersih. Foto: Muhammad Ridlo/KBR

KBR, Cilacap– Bantuan air bersih untuk 20 desa di delapan kecamatan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah kurang. Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan, pihaknya telah mengirimkan 450 ribu liter ke desa-desa yang telah meminta bantuan air bersih. Jumlah tersebut setara dengan 90 tangki kapasitas 5000 liter.

Menurutnya, persediaan air yang disediakan BPBD hanya 100 tangki air. Karena itu, BPBD berencana menggunakan dana penanganan darurat bencana kekeringan tahun 2017 yang dianggarkan sebesar Rp100 juta.

“Yang kita prediksi kecamatan yang rawan kekeringan mayoritas sudah mengajukan kekeringan. Yang jelas, seperti Kawunganten, Gandrungmangu, Patimuan, Karangpucung. Wilayah timur pun juga ada seperti Kecamatan Adipala. Kurang lebih 90 tangki sudah didistribusikan. Insyallah nanti kita nambah lagi. Mudah-mudahan Rp100 juta lagi. Jadi (anggaran) 100 tangki untuk langsung membayar ke sana (PDAM) yang Rp100 juta masih ada lagi untuk dana emergency,” jelas Tri Komara, Minggu 10/9/2017).

Tri Komara Sidhy meyakini rencana dana tambahan tersebut cukup untuk menanggulangai krisis air bersih hingga puncak kemarau Oktober mendatang. Dana tersebut akan digunakan untuk pengiriman yang rata-rata senilai Rp300 ribu per pengiriman. Dana itu juga akan digunakan untuk pipanisasi dan pembuatan sumur bor sederhana.

Baca juga: Kekeringan, Petani Cabai di Banyuwangi Gagal Panen

Ia menambahkan BPBD Cilacap juga telah membuat komitmen dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) jika krisis air bersih memburuk. BPBD  akan mengutang ke PDAM jika persediaan dana penanganan darurat bencana kekeringan habis.

BPBD memprediksi dari total 269 desa dan 15 kelurahan di seluruh Kabupaten Cilacap, 48 desa di 14 kecamatan diperkirakan bakal mengalami krisis air bersih pada puncak musim kemarau antara September-Oktober 2017 ini.

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.