Ratusan Warga Trenggalek Tolak Tambang Andesit

"Tambang ini harus berhenti, karena dampak yang dirasakan oleh masyarakat luar biasa kerusakannya."

Selasa, 19 Sep 2017 21:12 WIB

Ratusan warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menuntut penutupan tambang, Selasa (19/09). (Foto: KBR/Adhar M.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Trenggalek- Ratusan warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur berunjukrasa menuntut penutupan tambang batu andesit. Alasannya tambang mengganggu masyarakat dan merusak  lingkungan.

Koordinator aksi, Musyaroh, Selasa (19/9/2017) mengatakan, aktifitas pertambangan batu yang telah berjalan selama setahun terakhir  menyebabkan polusi udara berupa debu karena banyaknya kendaraan yang hilir mudik melalui perkampungan.

Menurutnya, komplek pemakaman umum yang ada di perbukitan tambang juga terancam longsor, Selain itu kegiatan tambang juga menyebabkan kebisingan sehingga menganggu   pesantren yang ada di sekitarnya.

"Tambang  ini harus berhenti, karena dampak yang dirasakan oleh masyarakat luar biasa kerusakannya. Di atasnya tambang itu ada makanya jarak makam sekitar dua meter. Sehingga berbahaya," katanya.

Warga berencana melakukan perundingan dengan pemerintah dan pengusaha tambang terkait penolakan tersebut. Apabila tidak ada titik temu, warga akan mengajukan gugatan ke pengadilan agar pemerintah mencabut izin tambang yang telah diberikan.

Sementara itu pemilik tambang, Kasiman mengaku   akan tetap melanjutkan aktifitas pertambangan seperti biasa, selama belum ada perintah penutupan dari instruksi langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur selaku pemberi izin. Pengusaha mengaku seluruh aktifitas pertambangannya telah mendapatkan izin i dari pemerintah.

"Kalau tambang ditutup ada kewenangan sendiri, warga tidak berhak tidak ada kewenangan, karena sudah memiliki izin resmi. Selama belum ditutup oleh pemberi izin maka akan tetap dilanjutkan. Di dalam perizinan tersebut ada yang menyatakan tidak boleh ada orang yang menghentikan tambang selain itu pihak tambang juga tidak memberhentikan seenaknya," imbuhnya.

Kasiman mengaku telah melakukan upaya pendekatan sosial kepada warga, termasuk mengurangi dampak polusi debu dengan menyiramkan air dua kali sehari. Pihaknya juga mengklaim akan melakukan perbaikan jalan yang rusak akibat kegiatan tambang miliknya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.