Polda Jateng Tangkap Pria Pengangguran Terduga Pemfitnah Jokowi

Slamet Wibowo ditangkap karena menyebar kebencian dan memfitnah Presiden Joko Widodo. Dari pemeriksaan ternyata Slamet mengaku perbuatannya, lantaran sakit hati terhadap Jokowi.

Kamis, 21 Sep 2017 15:08 WIB

Polda Jawa Tengah menangkap Slamet Wibowo atas tuduhan penyebaran kebencian dan fitnah di Semarang, Kamis (21/9/2017). (Foto: KBR/Widia Primastika)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Semarang - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah Jawa Tengah menangkap Slamet Wibowo, terduga pelaku penyebar ujaran kebencian melalui media sosial.

Penangkapan dilakukan pada Selasa (19/9/2017) sekitar pukul 17.15 WIB.

Unit kejahatan siber Polda Metro Jaya menangkap Slamet Wibowo setelah mendapatkan pelimpahan laporan dari Bareskrim Mabes Polri. 

Kepala Sub Direktorat II Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah Teddy Fanani mengatakan Slamet Wibowo yang merupakan pengangguran lulusan SMP itu menyebarkan ujaran kebencian tentang SARA serta memfitnah Presiden Joko Widodo.

Ujaran kebencian dan fitnah Jokowi dilakukan melalui akun Facebook atas nama Rio Wibowo pada Juli 2016 hingga Agustus 2017.

Polisi kemudian menyamar menjadi seorang perempuan bernama Dea, dan mengajak berkenalan dan bertemu melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp.

Teddy Fanani mengatakan dari pemeriksaan kemudian Slamet mengakui perbuatannya, lantaran sakit hati terhadap Presiden Joko Widodo.

"Keterangan dari yang bersangkutan mengatakan bahwa Bapak Joko Widodo itu melakukan pembunuhan terhadap istri dan anaknya pada tahun 2005 dengan melakukan penembakan di Bogor," ujar Teddy di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, Kamis (21/9/2017).

Teddy mengatakan polisi akan segera memeriksa kondisi kejiwaan pelaku karena keterangannya tersebut.

Saat ini Slamet Wibowo menghadapi ancaman pidana pelanggaran Pasal 45a ayat 2 juncto pasal 28 ayat 2 Undang-Undang nomor 8 tahun 2011 perubahan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Slamet menghadapi ancaman hukuman enam tahun penjara.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.