Peduli Rohingya, Umat Buddha Jawa Barat Tolak Kekerasan atas Nama Agama

"Saya berterima kasih kepada saudara-saudara kita yang Muslim tetap menjaga harmonitas keagamaan di wilayah seluruh Indonesia khususnya di Jawa Barat," ujar Eko Supeno.

Jumat, 08 Sep 2017 23:22 WIB

Sejumlah tokoh agama Buddha mengikuti aksi Peduli Rohingya di Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/9/2017). (Foto: ANTARA/Agus Bebeng)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Bandung - Umat Buddha di Indonesia menolak praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama tertentu di berbagai tempat, termasuk musibah yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar.

Salah seorang pembimbing masyarakat Buddha Jawa Barat, Eko Supeno mengatakan dalam ajaran Buddha, umat tidak boleh berbuat jahat melainkan harus memperbanyak kebajikan, mensucikan hati dan pikiran.

Eko Supeno mengatakan kejadian yang dialami warga etnis Rohingya di Myanmar merupakan bentuk pelanggaran terhadap kemanusiaan.

"Pada intinya umat Buddha melihat ini adalah kejadian kemanusiaan. Umat Buddha harus ikut mendukung upaya pemerintah dalam penyelesaian kejadian kemanusiaan di Myanmar," kata Eko Supeno di Kantor Gubernur Jawa Barat, Jalan Dipenogoro, Bandung, Jumat (8/9/2017).

Baca juga:

 
Eko Supeno ikut hadir dalam kegiatan aksi "Jawa Barat Peduli Rohingya" yang diikuti pemerintah Provinsi Jawa Barat, bersama ormas dan perwakilan lintas agama di Bandung.

Eko Supeno mengatakan sebagai umat Buddha yang berada di Indonesia, ajaran agamanya adalah mendekati kedekatan Buddha-nya dan aturan-aturan negara yaitu Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

Ia mengakui konflik di Myanmar menyebabkan adanya pengamanan ketat dari aparat terhadap setiap vihara di Jawa Barat. Meski begitu, EKo mengatakan kehidupan beragama di Indonesia masih tetap harmonis.

"Saya berterima kasih kepada saudara-saudara kita yang Muslim tetap menjaga harmonitas keagamaan di wilayah seluruh Indonesia khususnya di Jawa Barat," ujar Eko Supeno.

Umat Buddha menyatakan mendukung seluruh kegiatan kemanusiaan dalam bentuk apa pun. Hal itu dibuktikan dengan diterbitkannya deklarasi anti kekerasan terhadap etnis Rohinya di Myanmar, Kamis (7/9/2017) di Vihara Dharma Ramsi, Kota Bandung, Jawa Barat.

Baca juga:

 
Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.