Embun Es Rusak Tanaman Kentang di Dieng

"Paling rawan itu ya umur 40 hari sampai umur 70 hari itu masih rawan sekali, Mas. Kalau kemaraunya ini panjang, maka bun upasnya tambah tebal,”

Selasa, 05 Sep 2017 09:23 WIB

Bun upas atau embun es yang menyelimuti lahan kentang di Dieng, Jawa Tengah. (Foto: KBR/Slamet)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banjarnegara- Petani kentang di Dataran Tinggi Dieng (DTD) resah lantaran pada akhir Agustus dan awal September 2017 ini muncul embun es, atau disebut bun upas oleh masyarakat lokal, pada puncak musim kemarau ini.  Kepala Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Slamet Budiono mengatakan bun upas tercatat muncul tiga kali. Yakni, pada  31 Agustus, 1   dan 2 September 2017. Akibat kemunculan bun upas itu, dua hektar tanaman kentang berusia muda rusak.
 
Kata Slamet, bun upas masih sangat mungkin muncul hingga pertengahan September nanti. Sebab, semakin lama tidak ada hujan, bun upas semakin berpotensi muncul.
  
Slamet mengungkapkan, bun upas yang muncul  pada Minggu 2 September berkategori sedang. Itu sebabnya, daya rusaknya sudah mulai terasa. Dua hektare tanaman kentang yang rusak itu berumur 40 hari setelah tanam (HST). 

Ia mengaku khawatir bakal muncul lagi bun upas yang lebih tebal. Jika terjadi, maka tanaman berusia cukup tua, antara 60-70 hari pun bakal terdampak.
 
“Tanggal 31, tanggal 1 sampai tanggal 2 September kemarin. Ya sudah lumayan (tebal), di tanam sudah pada rusak itu. Biasanyakan, begitu turun bun upas, PPL turun. Cuma kisaran rusaknya ya masih sedikit lah, kisarannya antara 2 hektare lah. Yang paling rawan itu ya umur 40 hari sampai umur 70 hari itu masih rawan sekali, Mas. Kalau kemaraunya ini panjang, Mas, maka bun upasnya tambah tebal,” jelas Slamet Budiono, Senin malam (4/9/2017).

Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet Budiono menerangkan, selain merusak tanaman kentang, bun upas juga berdampak pada tanaman khas Dieng, Carica. Menurut dia, bunga carica tak akan berkembang menjadi buah jika sudah kadung diselimuti bun upas. Bahkan, kadang kala, buah muda pun turut ambrol jika terpapar bun upas.
 
Sementara, Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surip menjelaskan, kemunculan bun upas terjadi pada suhu beku antara 3 derajat hingga di bawah 0 derajat. pada suhu yang lebih tinggi, bun upas masih tipis. Namun, pada suhu lebih rendah, apalagi di bawah 0 derajat celcius, bun upas tebal dan mematikan tanaman kentang mulai usia muda hingga siap panen.
 
Surip menambahkan, bun upas adalah fenomena membekunya embun yang tercipta karena konsentrasi awan berarak dekat permukaan tanah. Lantas, tanaman, rerumputan, bebatuan yang basah oleh embun tebal itu membeku karena suhu turun ke titik beku. Itu sebabnya, jarang sekali ada bun upas di pepohonan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.