Ilustrasi.

KBR, Pontianak – Kepolisian Sambas, Kalimantan Barat kembali menggagalkan penyelundupan 10 Warga Negara Indonesia (WNI) di pintu perbatasan Sajingan, Sambas, Kalimantan Barat dengan Malaysia pada Sabtu (3/9/2016) dini hari. Tiga korban di antaranya masih anak-anak.

Juru bicara Polda Kalbar Suhadi SW saat dihubungi KBR mengatakan, dua orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Yakni seorang Warga Negara Malaysia bernama Ahmad Ardi bin Abdullah, dan seorang WNI asal Nusa Tenggara Timur Kanisius Belia (41) asal Kampung Leeuku Desa Belobao Kecamatan Wulan Doni Kabupaten Lambata Nusa Tenggara Timur.

"Ini tampaknya kerjasama pelaku warga Malaysia dengan salah seorang warga Indonesia asal NTT itu," kata Suhadi saat dihubungi KBR, Sabtu (3/9/2016) malam.

Penangkapan ini, lanjut Suhadi, bermula dari laporan masyarakat terkait gelagat mencurigakan dua pelaku. Setelah diperiksa, ternyata mereka tidak dapat menunjukkan surat keterangan maupun identitas yang jelas. Sehingga polisi melakukan penahanan.

"Awalnya kita mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya beberapa warga masyarakat yang menggunakan mobil Hilux mau menuju Malaysia. Ketika sampai di rumah makan di Sajingan itu, dan setelah diperiksa Polisi ternyata benar mau dibawa ke Malaysia tanpa surat yang jelas. Korban ada 10 orang, 7 laki-laki, 3 perempuan dan masih di bawah umur semua," jelas Suhadi.

Baca juga:

Juru Bicara Polda Kalbar Suhadi pun menambahkan, sepanjang September ini saja, sudah tiga kali Polres di jajaran Polda Kalimantan Barat menggagalkan perdagangan manusia. Salah satunya, kejadian di Entikong pada 1 September lalu dengan 12 korban dari Nusa Tenggara Barat.

Suhadi melanjutkan, sebagian korban praktik perdagangan manusia tersebut tak memiliki keahlian dan latar belakang pendidikan yang baik. Itu sebab, ia mengimbau warga Kalimantan Barat agar tak mudah termakan bujuk rayu atau iming-iming gaji besar dengan tawaran akan dipekerjakan di restoran atau perkebunan. Masyarakat, diminta lebih waspada. Menurutnya, pelaku memiliki beragam modus untuk mengelabuhi korban.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!